Thursday, August 11, 2022
HomeBudayaYusmin S; Hadiah Ulang Tahun Anak

Yusmin S; Hadiah Ulang Tahun Anak

tapol-buruDesember 1984.

Ken, anak kami, tiga hari lagi berulang tahun yang ketiga. Sejak belum dua tahun ia sudah pandai membaca empat puluh lebih kata-kata. Tapi sebagian terbanyak kata-kata Belanda, bahasa ibu mamanya. Karena itu kami sepakat untuk memberi hadiah ulang tahun kepadanya sebuah buku bacaan berbahasa Indonesia. Tentu saja buku bacaan yang paling sederhana, sejenis yang digunakan untuk pemberantasan orang buta huruf. Tapi dengan kata-kata yang menyambung dengan alam pikiran anak-anak seumur dia.

Kebisaan anak kami membaca pada umur dini demikian, sebenarnya bertolak dari paham kami yang sederhana saja. Semua anak, asalkan lahir dalam keadaan sehat jiwa dan raga, mereka semua berbakat “bisa”. Tidak usah dinamakan “pandai”, tapi tidak ada anak yang lahir bodoh. Ia ibarat kertas putih bersih, yang sanggup menerima segala apa yang akan diberikan kepadanya. Aku dan isteriku memang percaya pada teori “kertas putih” atau teori “tabula rasa” Rousseau itu. Tugas orang tualah untuk memilih dan memberikan “segala apa” yang tepat kepadanya. Tentang ini bisa dipakai sebagai perbandingan, misalnya, kepada anak yang belum tumbuh gigi jangan diberi makan nasi pecel dan rempeyek.

Kami juga berpendapat bahwa, selain tidak ada anak yang lahir bodoh, juga tidak ada anak yang “belum bisa apa-apa”, apalagi yang “tidak bisa apa-apa”. Semua anak sudah sejak lahir ia pun “sudah bisa apa-apa”, tentu saja “apa-apa” sejauh kebisaan raga dan jiwa anak itu. Oleh karena itu betapapun masih kecilnya seorang anak, ia bukanlah objek tapi subjek yang sama sekali sama seperti halnya semua orang lainnya. Dengan begitu, karena semua anak sejak lahir — sejatinya bahkan sejak ia menjadi di dalam rahim — adalah sekaligus subjek-objek dan objek-subjek, maka kami menjauhi cara pendekatan men-dublak atau menjejali anak baik ragawi maupun jiwani. Dulu di desa ibu-ibu tanbi atau mbah dukun mendublak bayi dengan tumbuk nasi gula merah, belakangan di kota-kota metode pendidikan orde baru mendublak anak didik dengan doktrin-doktrin.
“Ken,” panggil mamanya. “Kamu juga mau menulis untuk oma atau tidak?” Tanyanya sambil memberikan bolpen padanya.
Yang ditanya, walaupun sejatinya pertanyaan itu memang berisi dorongan, menjadi seperti diiming-iming. Dengan senang ia berlari menyambut tawaran bolpen dan kertas mamanya.

Begitulah isteriku. Setiap ia selesai mengetik atau menulis surat untuk oma-opa anak, dan tante-tante anaknya, atau siapa saja sahabat-sahabat kami. Di ujung bawah suratnya selalu masih disisakan ruangan kosong. Sambil duduk di pangkuan mamanya, atau berdiri di kursi depan mejatulis, giliran Ken menulis panjang-lebar sebuah kisah. Tentu saja yang tergores sebuah gambar benang kusut yang yang harus diurai untuk bisa mengerti.

“Kamu cerita apa pada oma, Ken?” Tanya mamanya sesudah dilihatnya ia berhenti menulis.
Ia menjawab dengan kekayaan perbendaharaan kata yang dimilikinya. Kemudian di bawah gambar benang kusut itu mamanya menuliskan jawaban Ken dalam huruf-huruf dan bahasa yang dimengerti bakal penerima surat.
“Bagus!” Puji mamanya. “Sekarang kasih cium dan tandatanganmu.”
Ia lalu membuat tanda perkalian, lambang kata cium, terkadang banyak sekali, yang ditutupnya dengan tiga huruf-huruf kapital namanya sendiri. Untuk ini dia sudah bisa menggambarnya.
Anak bukan lubang timbunan sampah. Tapi tanah subur pengandung hidup. Ia bukan muara pelimpahan arus. Tapi mata air yang segar berbuncah-buncah. Karena itu kami sangat berterimakasih pada Julia, ketika suatu hari ia datang ke Tebet meminjami sebuah buku saku berbahasa Inggris. Aku tidak ingat lagi apa judul buku dan siapa nama pengarangnya. (Julia, barangkali masih kausimpan di rak bukumu?). Tapi buku ini memantapkan hati kami. Bahwa mengajar baca-tulis pada anak dalam umur sedini mungkin, bukannya mustahil dan juga tidak akan membebani pertumbuhan jiwa anak.

*

Hari itu hari isteriku harus bekerja, mengajar di sekolah Belanda di Slipi. Aku, yang bekerja sebagai free lance, tidak ada keharusan pergi dari rumah. Karena itu akulah yang akan pergi mencari buku hadiah ulangtahun anak itu. Untuk urusan seperti ini aku memang merasa lebih tepat ketimbang istriku. Pertama, karena yang kami perlukan buku berbahasa Indonesia; kedua, aku pernah menjadi guru bahasa Indonesia; dan ketiga, aku pernah menjadi pegawai Penmas Pusat yang justru mengurusi penyusunan buku bacaan untuk pama-pami.

Walaupun begitu aku berangkat dari rumah masih dengan kepala kosong. Aku belum tahu, buku bacaan seperti apa yang akan kubeli nanti. Tapi mudah-mudahan bisa kutemukan sesudah di toko buku nanti. Hal itu juga karena aku sudah tidak tahu lagi, bagaimana keadaan bacaan anak-anak sesudah kutinggalkan sepuluh tahun hidup di dalam isolasi. Tapi di kantong kemejaku ada uang lima ribu rupiah. Kupikir lebih dari cukup untuk dengan tenang memilih satu buku yang paling cocok. Komik wayang karangan Kosasih masih bisa dibeli dengan seribu rupiah ketika itu. “Naga Sasra Sabuk Inten” Sh. Mintardja malah cukup dengan delapan ratus rupiah.

Matahari belum terlalu panas ketika bis yang kunaiki masuk stanplat Blok M. Turun dari bis aku berjalan kaki, barang 200 – 300 meter saja, menuju toko “Gunung Agung”. Toko ini terletak di jalan Panglima Polim, tepat berseberangan dengan sebuah gereja Kristen, El Fatha barangkali namanya. Tiba di trotoar depan halaman gereja ini aku berhenti, menunggu kesempatan untuk menyeberang jalan.
“Pak Hersri!”

Tiba-tiba kudengar, dari arah belakang, suara seseorang memanggilku. Rasanya aku sangat kenal suara itu. Tapi siapa, dan mengapa di sini? Ketika aku menoleh, kulihat seorang laki-laki sebayaku, berjalan bergegas menuju ke pintu jeruji besi pagar halaman.

“Pak Yusmin!” Seruku. Aku menyongsongnya, masuk halaman gereja, setengah berlari. Kami saling berpelukan.
“Pak Her,” katanya tak berlanjut. Matanya kulihat menjadi basah.

Aku teringat masa sekian tahun yang lalu. Ketika ia memelukku sambil menitikkan airmata. Pelukan dan air mata perpisahan, di pintu gerbang Blok “I” r-t-c Salemba tahun 1971. Aku termasuk dalam rombongan ke Buru, dan ia masih harus tinggal di Salemba. Kemudian kami berkumpul lagi tahun 1974. Tidak dalam satu riungan, seperti ketika di r-t-c, tapi dalam satu unit. Kami sama-sama dipindah ke Unit XV Indrapura. Aku dari Unit XIV Bantalareja, dan ia dari Unit XVI Indragiri.
Halaman gereja itu luas dan bersih. Hamparan rumput hijau, dipagari dengan tanaman berbagai bunga di pinggir, dan di sana-sini tanaman-tanaman hias seperti kayu regu, jeruk kingkit dan lain-lain. Kami duduk di bangku kayu, di teritis sudut bangunan gereja, di bawah naungan serumpun bambu kuning.

“Wah, tidak ada minum, pak. Kopi di termos juga sudah habis.”
“Ah, tidak apa. Saya juga belum merasa haus.”
“Isap jingga saja ya, pak. Biar nggak blangkemen.” Ia merogoh dua batang rokok dari saku kemejanya, dan memberikan sebatang kepadaku. “Blangkemen” itu istilah Jawa, kaku mulut, sehingga menjadi gagap jika akan bicara.
Yusmin S! Kataku dalam hati. Masih seperti dulu. Pandangannya selalu sejuk, tutur katanya lembut, dan selalu gati pada sesama kawan.
“Maaf kerisan ya, pak.”
Kata “kerisan” istilah yang lazim di kalangan perokok tak berduit. Jika membeli rokok mengecer satu dua batang, dan jika menawari temannya diambilnya satu batang. Seperti orang menarik keris dari rangkanya.
Aku menerima tawarannya. Sebatang jingga kuisap.
“Juga cuma jingga coklat saja, pak.” Katanya merasa tidak patut menghidangi aku dengan rokok cap murahan.
Ada dua macam “Menak Djingga”. Yang berbungkus kuning, dan yang berbungkus coklat. Yang berbungkus coklat ini juga dikenal sebagai “rokok tukang becak”, dan yang bungkus kunig rokoknya bapak-bapak.
“Ah enak kok, pak.” Kataku tidak berbasa-basi. Ketika hari belum panas, mengisap rokok keras rasaku lebih cocok.
“Timbang tembako kawul sama wur klembak seperti di Salemba ya, pak?”

Kami saling pandang dan tertawa.

Di riunganku ketika di Blok “I” kami berlima. Dari yang lima ini penerima besukan tetap hanya dua, dia dan Parno Panjul. Walaupun satu kali tiga minggu atau lebih. Aku sendiri boleh dibilang tidak pernah menerima besukan. Tapi ia selalu menerima satu tas plastik penuh, berisi bulgur, singkong rebus dan “tembakau kawul” yang rajangannya kasar, dan jika diisap terasa keras menusuk pangkal hidung. Di penjara tapol ada dua saja barang besukan yang dipandang paling berharga, singkong mentega (karena berwarna kuning) dan tembakau.

“Sudah lama kerja di sini, pak?”
“Lumayan, pak. Sekitar satu setengah tahunan? Berkat pertolongan pak pendeta Marantika. Kenal kan, pak?”
Aku tidak menjawab. Perasaanku sebagai sesama e-t dengannya seperti menolak, jika aku ditaruhnya di atas dirinya sendiri, dan dipandang sejajar dengan orang yang mampu memberikan pertolongan padanya.
“Dulu, sepulangnya dari Buru itu, saya menarik becak. Tapi belum lama badan sudah merasa tidak kuat. Selain itu di Buru kita sudah kerja berat, masa kembali Jawa tetap begitu juga?”
“Sekarang bagaimana?”
“Jaga malam dan merawat halaman gereja ini. Masih tetap kuli, pak! Tapi kan tidak perlu keluar tenaga banyak, tidak peduli panas atau hujan ..”
“Dikasih gaji berapa?”
“Tidak banyak, pak. Hanya tiga puluh lima ribu. Tapi jatah berasnya lima belas kilo sebulan. Walaupun penguk-penguk sedikit. Tapi orang seperti kita-kita ini, asal di rumah sudah ada beras, hati kan ayem?”
“Cukup itu, pak?”
“Ya bagaimana, ya? Kapan kita pernah punya cukup, pak? Jadi ya, harus dicukup-cukupkan saja. Tapi bapak-bapak dan ibu-ibu kantor itu kan pada nggak doyan beras penguk. Terus ada yang mengasihkannya ke kita, ada yang menyuruh kita jualin, lalu nanti kita dikasih persen.”
Aku berdiam diri. Kalau sedang bertemu dan mengobrol dengan sesama kawan-kawan e-t yang kukenal dekat begini, di dadaku menjadi risau oleh perasaan bersalah. Walaupun tentu saja bukan salahku, jika nasib memberi aku bagian yang jauh lebih dari yang mereka terima. Perasaan begini juga kurasakan barang dua tahun lalu. Ketika itu, suatu petang, aku berjalan di jalan Sabang, mengantar Hildred Geertz mencari kaset-kaset dangdut.
“Pak Hersri!” Tiba-tiba terdengar suara parau yang kukenal memanggil.
“Pak Slamet!”
Ia Slamet Parto, paklik Panglima KKO Jendral Hartono. Kawanku setahanan sejak di Paskoarma Cilandak sampai di Barak IX Unit XV di Buru, penderita asma berat yang mencemaskan aku setiap kali ia kumat malam hari di dalam sel. Ia bekas anak buah Slamet Riadi, yang sesudah Peristiwa Srambatan di Solo terkena politik “re-ra” pemerintah Hatta-Sukiman, dikirim ke pedalaman Kalimantan mengemban perintah negara untuk “civic mission” sebagai “c-t-n” (corps tjadangan nasional), kembali ke Solo menjadi lurah salah satu kampung.
“Kok di sini, pak?” Tanyaku sesudah ia kukenalkan pada Hilly, dan Hilly kepadanya. “Pak Slamet tidak lagi tinggal di Cilandak?”
“Masih pak, masih di Cilandak. Tapi saya jadi tukang parkir di sini. Tugas saya tiap malam. Ya, Jalan Sabang yang belah sini ini daerah kerja saya.Yang belah sana lain kawan lagi.”

Kulirik alas kaki Yusmin. Masih bersandal jepit seperti ketika di Buru. Kemeja tetoron berlengan pendek putih tua, dan celana panjang biru yang telah luntur warnanya, dan pada lututnya telah tampak memutih.
“Kerjanya tiap malam pak?”
“Wah, tidak kuat kalau tiap malam, pak! Makanya kami aplusan bertiga. Sebentar nanti saya pulang kalau Panjul sudah datang.”
“Panjul?” Potongku. “Pak Parno Panjul?”
“Ya Panjul siapa lagi? Yang satunya pak Her juga sudah kenal. Kawan kita di rawa Tui juga kok pak …”
“Siapa itu?”
“Yantono.”
“Pak Yantono? Yantono barak lima?”

Ya! Yusmin, Panjul, Yantono. Tentu saja mereka kukenal dan tetap dalam ingatanku. Mereka menjadi kawan-kawanku dekat sejak kami di Salemba, kemudian di Tangerang, dan akhirnya di Buru. Sekarang bertemu lagi di blok M, di teritis gereja El Fatha, menghadapi soal yang sama: memperpanjang hidup. Mereka bertiga orang-orang muda dari Pacitan Madiun, lulusan s-m-a, pergi ke ibukota di masa pembangunan Senayan, kemudian bekerja di pabrik panci aluminum di ujung masuk jalan Piere Tendean sekarang. Sebagai buruh-buruh “Pabrik Panci”, begitulah nama pabrik itu dikenal, mereka masuk serikat buruh industri ringan dan bangunan (Sbirba) yang anggota Sobsi, dan oleh karenanya sudah cukup alasan bagi rezim militer orde baru untuk menangkap dan mengasingkan mereka ke Buru.

Dua-tiga tahun pertama di Unit XIV Bantalareja, ketika unit kami dalam kelaparan parah, Dan Unit Lettu Yusin Zainal membentuk regu kerja pemukul sagu. Regu kerja yang menurutku terlalu besar, dengan enam puluh anggota, di samping regu kerja penggergajian yang berkekuatan sama. Kawan-kawan di areal tinggal terdiri yang tua-tua, sehingga tugas areal menjadi dirasa semakin berat. Tenaga kerja areal, selain terdiri dari tenaga tua, juga tinggal sedikit. Kepala regu kerja sagu ini dibebankan padaku. Tiga di antara enam puluh anggota regu sagu ini kawan-kawanku penjaga malam dan tukang kebun gereja El Fatha sekarang.

“Pak Her nanti singgah ke rumah ya,” ajaknya. “Biar kenalan sama mbok wedok. Saya sudah banyak cerita tentang pak Her pada dia.”
Aku sama sekali tidak keberatan. Tapi aku menjadi teringat pada tugasku pokok ke Blok “M”: mencari buku hadiah untuk ulang tahun Ken. Aku melihat ke arloji tanganku.
“Sekalian tunggu Panjul, pak. Sebentar lagi dia pasti datang. Dia tentu akan senang sekali ketemu pak Her nanti.”
“Jam berapa dia datang?”
“Sekitar waktu-waktu ini. Pasti dia datang. Karena hari ini giliran aplusan dia, kok!”
Aku lalu pamit ke tempat telpon umum. Di sudut perapatan Panglima Polim, tak jauh dari pintu keluar gereja. Aku tahu istriku belum di rumah. Tapi aku bisa menitip pesan pada Ira, pembantu urusan pekerjaan rumah tangga dan pengasuh Ken, jika kami berdua harus pergi dari rumah. Istriku selalu khawatir jika aku tidak datang pada waktunya. Takut barangkali aku ditangkap lagi, atau ditabrak-lari di tengah jalan. Tabrak lari belum lama memang terjadi pada bung Mudakir, bekas pimpinan Lekra cabang Kudus, kepala Barak VII Unit XIV Bantalareja. Mayatnya terkapar di antara jalan raya antara Gereja Santa dan patung “Api Pemuda” di ujung Jalan Sudirman itu.

Benar juga. Ketika aku masuk halaman El Fatha, Parno Panjul yang menyosongku dengan pelukannya. Kami lalu duduk bertiga, di bawah naungan rumpun bambu kuning, di teritis gereja.
“Pak Panjul, tapi ini sudah siang, pak,” kataku ingin memutus pertemuan. “Saya masih ingin singgah di rumah pak Yusmin. Lagi pula dia tentu juga sudah ingin istirahat, sesudah sepanjang malam tugas jaga.”
“Ah! Sudah biasa kami, pak. Tapi baiklah! Cuma besok datang lagi ke sini pak? Saya belum puas ngobrol. Biar ketemu Yantono juga.”
“Baik. Kita bertemu lagi di sini, besok. Janji!”

Bersama Yusmin kutinggalkan halaman gereja El Fatha. Aku tidak jadi ke Gunung Agung. Bertemu tiga kawan-kawanku sesama pemukul sagu di rawa Tui, mendengar cerita hidup mereka sejak kembali dari Buru, lima ribu rupiah di saku kemejaku untuk satu buku hadiah ulang tahun anak kurasa menjadi terlalu mewah. Kawan-kawanku ini pastilah tidak pernah merayakan hari ulang tahun mereka. Teringatkan pun barangkali tidak, karena hari demi hari selalu tertimbun oleh pergulatan hidup. Hari demi hari lalu menjadi tidak ada yang istimewa. Selalu sama saja. Ya, sesuap nasi! Mengapa aku sekarang mau membeli buku? Buku dan bukan nasi! Aku percaya, istriku pasti tidak akan menyesali keputusanku. Juga aku percaya, kelak jika Ken sudah sedikit besar, dan aku ceritakan semuanya ini, ia pun pasti akan mencium papanya dengan ketulusan hatinya.

Tidak. Aku tidak jadi masuk ke Gunung Agung. Yusmin kuajak belok sebentar di pasar Blok M. Aku suruh dia memilih satu kemeja seharga tiga ribu lima ratus, seharga sama seperti jika aku dibelikan istriku ketika itu. Lalu, sesudah mendapat satu kemeja, kami mencari pedagang kebutuhan dapur. Masih ada uang seribu rupiah yang bisa dibelanjakan, cukup untuk gula kopi dan teh, telur dan tentu saja sebungkus rokok.

Aku lalu dibawanya berjalan kaki ke kampung Sawah. Sesudah berkali-kali memotong jalan raya, yang tidak kutahu, kami masuk lorong di antara tembok bangunan dan tanah kosong yang penuh tumbuhan liar. Lorong itu semakin turun dan turun, seperti masuk kampung di ledok-ledok Kali Code di Yogya. Kemudian kami membelok ke kiri sedikit dan berhenti.
“Ini gubuk kami pak.” Kata Yusmin.

Lidahku tiba-tiba terasa kelu, tidak bisa menjawab. Yang di depan mataku memang benar-benar sebuah gubuk. Berdinding gedek menempel di tembok batu sebuah gedung entah bangunan apa. Barangkali airmataku akan mengalir seketika itu, seandainya tidak segera kudengar lagi suara Yusmin yang sejuk.
“Mboke!” Seru Yusmin memanggil istrinya.

Seorang perempuan berkain-kebaya serba lusuh keluar. Ia kelihatan lebih tua dari suaminya. Atau barangkali pergulatan hidup telah membuat kulit tubuhnya cepat berkerut-mirut, dan menjadi kelihatan tua, tapi pancaran matanya tertangkap tajam.
“Ini pak Hersri, yang pernah aku ceritakan itu,” kata suaminya memperkenalkan.
Dengan malu-malu ia menyambut uluran tanganku.
“Mbok wedok ini dulu juga buruh pabrik panci, pak.”
“O! Juga ditahan mbak?”
“Ya. Tapi cuma sebentar kok, pak. Sekitar enam – tujuh bulan?”
“Untung!”
“Ya, wong saya memang tidak tahu apa-apa kok. Saya bukan anggota s-b, bukan p-r, bukan apa. Ya hanya karena jadi istri mas Yusmin itu.”
Suaminya tersenyum.
“Ini oleh-oleh pak Her, ada macam-macam, gula kopi … bawa dulu ke dalam sana.”
“Aduh, pak! Terimakasih sekali. Kok bawa oleh-oleh segala macam …”
“Ah, sedikit saja kok, mbak. Di Salemba dulu mas Yusmin ini yang menghidupi saya, dengan selalu membagi bulgur dan singkong besukan mbak.”
“O? Cerita mas Yusmin, bapak yang membuat dia punya semangat hidup!”

Dalam hati sesungguhnya aku kagum dan bertanya-tanya. Bagaimana dengan keadaan hidup yang seperti kusaksikan sekarang, ia masih bisa membesuk suaminya tiga minggu sekali, satu tas penuh dengan isi besukan yang paling diperlukan tapol untuk bisa bertahan hidup.

Diterimanya bingkisan kecil di kantong plastik yang tak berarti itu, dan dibawanya masuk ke rumah. Ketika keluar lagi ia membawa dua dingklik kayu, satu untukku dan satu lagi untuk suaminya. Ia sendiri duduk di batu, di samping pintu masuk.
“Maaf ya, pak. Kita duduk di luar.”
“Kenapa maaf?” Sahutku mendinginkan hati mereka. “Kan tidak hujan tidak angin?”
“Ya beginilah keadaan kami, pak.” Tambah istrinya.
“Tapi kan tidak dijaga tonwal, dan tidak diatur lonceng apel ya, pak?”
“Ya benar!”
Kami tertawa.

Yusmin tidak berbahasa basi ketika menyebut kediaman mereka sebagai gubuk. Juga istrinya tidak sekedar merendah ketika mengatakan “beginilah keadaan” mereka. Gubuk mereka berlantai tanah. Tak ada tetangga di kiri-kanan. Kecuali agak jauh ke belakang atau di bawah sana. Pemandangan di depan dan samping gubuk berupa tembok beton yang tinggi. Gubuk kediaman itu sendiri barangkali tidak jauh beda, kalau bukannya malah lebih buruk, dari kediaman indhung tempel di Yogya nun ketika itu. Tidak ada perabotan rumah apa pun di dalam, selain satu dipan tempat tidur mereka. Ruangan di dalam juga terlalu sempit untuk meja kursi, dan terlalu gelap untuk duduk di dalam.

Tapi Yusmin benar. Setidaknya hidup mereka tidak dijaga tonwal, dan hidup mereka tidak diatur aba-aba lonceng kekuasaan.

*

Aku pulang tanpa membawa buku bacaan hadiah ulang tahun anakku. Tapi aku membawa pulang, di kepala dan di hatiku, sebuah kisah hidup yang indah. Indah buat aku sendiri, buat istriku, dan buat anak kami beberapa tahun kemudian, jika ia sudah lebih mampu mencerna butir-butir pergulatan hidup.

Tiba di rumah aku disambut anak dan istriku dengan ciuman dan kebahagiaan. Sudah sore ketika itu. Untuk mencari sebuah buku, memang terlalu lambat aku datang. Tapi setiap kesempatan kami berkumpul bertiga begitu, memang selalu terasa sangat membahagiakan. Karena saat-saat begitulah pertanda tentang adanya kebebasan yang senyatanya kami miliki.
“Tidak ketemu buku yang kaucari?” Tanya isteriku membuka pembicaraan.
Kami duduk di kursi rotan panjang. Anakku bermanja-manja di pangkuanku.
“Itulah yang akan aku ceritakan. Tadi Ira bilang apa?”
“Ya hanya meneruskan pesanmu. Kau akan pulang lambat, karena ketemu kawanmu lama. Aku mengerti siapa yang kau maksud dengan kawan lama itu.”

Aku lalu menceritakan segala pengalaman yang terjadi. Mulai pagi ketika tiba di seberang Gunung Agung, duduk berdua di emperan gereja dengan Yusmin dan kemudian bertiga dengan Panjul, belanja di pasar blok M, dan singgah di gubuk Yusmin dan isterinya di kampung Sawah.
“Jadi maaf, Jits.” Kataku mengakhiri cerita. “Hari ini aku belum berhasil mendapat buku itu. Besok aku bisa pergi lagi. Tapi juga perlu uang lima ribu lagi.”
“Tidak usah. Tidak perlu kau pergi lagi.”
Aku menatapnya bertanya-tanya. Tapi ia bersungguh-sungguh.
“Nanti malam aku bisa bikin sendiri dengan beberapa lembar kertas ketik, lalu dibendel dengan ikatan benang berwarna atau tali apa saja.”
Aku sedikit tenteram. Karena aku percaya pada apa yang dikatakannya. Dia memang punya jari-jari yang terampil dan tahu keindahan.
“Isinya nanti kita susun berdua. Masih ada waktu dua hari untuk itu.”
Itu pun aku tidak ragu. Karena dalam hal ini, baik dia maupun aku sendiri, sudah punya pengalaman masing-masing.
“O!” Tiba-tiba sambungnya dengan cahaya mata bersinar-sinar. “Di Salemba kau kan sudah pandai memilin tali plastik? Kau bikin tali dari gedebog pisang kering. Pasti bagus! Kita cari nanti di halaman t-k “Mujahidin”. Di sudut halaman itu mereka tanam pisang kan?”
Gagasan bagus, pikirku.
Ia lalu berdiri masuk kamar. Membuka lemari. Tentu mengambil uang. Barangkali mau sekaligus belanja kebutuhan dapur, di warung Mpok Lime di dekat “Mujahidin”.
“Besok kau pergi bertemu kawan-kawanmu lama di gereja lagi kan? Berikan ini untuk dua kawanmu yang lain. Panjul dan Yantono, nama mereka?” Katanya sambil memberikan dua lembar uang lima ribuan padaku.
Aku tidak perlu menjawab dengan kata-kata. Aku angkat anakku dari pangkuan, dan kami bertiga berpeluk-pelukan. Mataku terasa hangat oleh linangan air.
“Undanglah mereka datang ke sini. Kapan saja. Sebelum kita sempat mengunjungi mereka.”
Kami lalu berjalan bertiga mencari gedebok pisang kering. Malam itu kami melembur. Membuat buku bacaan hadiah ulang tahun anak. Ulang tahun yang ketiga.

***

Hersri Setiawan

1. Penulis adalah mantan tahanan politik yang ditahan di Pulau Buru tahun 1971-1979

2. pama-pami; “paguyuban maos paguyuban mirengaken” (Jaw.: “kelompok baca kelompok dengar”), kelompok di desa dan kampung, dibentuk oleh Jawatan Pendidikan Masyarakat untuk memelihara orang yang telah dinyatakan bebas buta huruf, agar tidak menjadi b-h kembali .

3. kawul; serabut halus, misalnya yang terdapat di pangkal pelepah daun nyiur dsb; “tembakau kawul”, sebutan untuk tembakau sembarang yang tidak ada rasanya, selain karena wujud dan warnanya maka disebut “tembakau”.

4. wur (Jaw.: tabur); tumbukan halus ramuan rokok yang ditaburkan pada tembakau ketika akan digulung; ramuan terdiri dari macam-macam bahan, seperti klembak, cengkih, kemukus, terkadang juga kemenyan; rokok siong, kegemaran orang Bagelen, dibikin dengan wur klembak-menyan; dahulu merupakan salah satu barang dagangan yang lazim.

5. Hilly, Hildred Geertz, pengarang buku The Javanese Family, tesis Ph.D-nya dari Universitas Harvard (1956); terjemahan Indonesia, Hersri, Keluarga Jawa, Grafiti Pers, cet. I dan II 1983, cet. III 1985.

6. Peristiwa Srambatan, peristiwa baku tembak antara pasukan Div. Panembahan Senopati dengan pasukan Div. Siliwangi di kampung Srambatan Solo, Juli 1948; terkait peristiwa ini Kol. Sutarto, panglima divisi Panembahan Senopati, yang anti-politik “re-ra”, tewas ditembak petrus di depan rumahnya di kampung Timuran; boleh dibilang peristiwa ini merupakan “perang kembang” atau “perang gagal” dari Peristiwa Madiun (September 1948).

7. Slamet Riadi, salah seorang komandan batalyon dalam “Divisi Sutarto”.

8. re-ra, reorganisasi dan rasionalisasi; kebijakan pemerintah Hatta-Sukiman, atas desakan AH Nasution (baca “Memenuhi Panggilan Tugas”, passim), di kalangan angkatan bersenjata; seperti sebutannya sudah menunjuk, akibat kebijakan ini laskar rakyat bersenjata dibubarkan, dengan alasan penyatuan komando, pangkat diturun-naikkan dsb.

9. indhung tempel (Jaw.: indhung = menumpang) atau indhung templek; menumpang tinggal dengan “menempelkan” tempat kediaman di pekarangan orang lain yang kaya; di desa di pekarangan tuan tanah dan tani kaya, di kota di halaman rumah bangsawan besar; ada lagi yang disebut “indhung tlosor”, yaitu mereka yang tidak punya apa-apa, sehingga hanya bisa menumpang “menelosor” alias tidur.

10. Mpok Lime, nama “mpok” atau “mbakyu” itu sebenarnya Alimah; tapi lidah betawi biasa menyebutnya “Lime” atau “Alime”.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular