Beberapa Detik Sebelumnya…

0
414

Bom lagi. Meledak lagi. Salah sasaran lagi. Setiap ada kejadian seperti ini cuma satu pertanyaanku, “Apa yang ada di kepala mereka yang menjadi korban beberapa detik sebelum kejadian itu?”

Ini cuma mungkin…

Seorang perempuan tersenyum bahagia. Hari ini ia akan membooking hotel untuk pesta pernikahannya. Untuk itulah ia datang ke Ritz Carlton. Masih sempat ia berbelok di depan pintu tembus pandang itu guna menyapa seorang ibu muda yang tengah menggendong seorang bayi dan menegur ramah bayi riang yang ada di hadapannya. Ia berharap semoga kelak Tuhan mempercayakannya untuk merawat seorang anak. “Tuhan, titahmu adalah hidupku. Jika boleh aku meminta, Percayakanlah kepadaku untuk memiliki seorang anak. Akan kujaga ia dengan cinta dan pemahaman tentangmu, sama seperti yang Ibuku ajarkan kepadaku.” Senyumnya tidak lagi simpul. Ia tertawa membayangkan sebuah keluarga yang akan ia bina. Dengan semua mimpi dan harapan tentang masa depan ia melangkahkan kaki. .”Ini jodohku, sama seperti rejeki yang IA titipkan padaku hingga kudapat menyewa hotel ini “. Mungkin yang terlupa dari pikiran perempuan bahagia ini adalah nyawa yang juga IA pinjamkan untuknya. Dan perempuan itu terlempar keluar dari lobby karena guncangan tanah mematikan itu. Tetap ada pernikahan dan bunga-bunga indah. Pernikahan dimana hanya ia seorang pengantinnya. Dan bunga-bunga segar yang tertebar di atas makamnya.

Seorang pria warga negara Australia tampak sibuk dengan kamera dan lensa panjang yang terlihat seperti bazooka. Ia duduk di sofa untuk menunggu Duta Australia untuk menjemputnya. Tiba-tiba terdengar alunan lagu I can wait forever dari grup band legendaris Air supply. Secepat kilat ia meletakkan kameranya di dalam tas dan merogoh saku untuk mencari asal suara itu. “Hallo..” ujarnya menjawab suara yang terdengar kesal dari telfon genggamnya. “Kenapa kamu tidak mau mendengarkan aku? kamu tahu resiko apa yang menunggu jika kamu kesana kan?” suara amarah seorang perempuan terdengar nyaring. “iya hunny, tapi aku memang harus pergi. sebentar lagi disini akan ada perayaan besar memperingati kemerdekaan negara ini. Dan aku harus bisa mengabadikannya. Aku janji akan berhati-hati. Maaf ya sayang…bukan aku tidak mau mendengarkanmu tapi percayalah aku akan baik-baik saja untukmu, untuk anak yang sekarang sedang mendengarkanmu mengomel.” Tiba-tiba isak halus terdengar “Aku cuma punya kamu. Cuma kamu. Jika terjadi sesuatu denganmu, lebih baik aku mati” perempuan itu berkata lirih. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke sofa dan menarik nafas panjang. “Tidak akan ada apa-apa sayang. aku berjanji. Sudah, berhenti menangis ya. setelah perayaannya selesai aku segera pulang. Jemput aku ya. Aku sayang kamu.” Perlahan suara perempuan itu menjawab lesu “Iya aku juga sayang kamu. Jaga diri kamu ya. Kamu harus pulang. Ingat, anak kita akan lahir sebentar lagi. Jangan lupa makan” Ucapnya diakhiri dengan kecup. Setelah pria itu membalas kecupannya telfon pun dimatikan. Beberapa detik kemudian terdengar suara bergedebam disusul guncangan hebat. Ia terjatuh Tas kamera terlepas dari tangannya. Semua orang yang berada di lobby itu morat-marit berteriak panik dan berlomba keluar. Perkataannya istrinya langsung membayangi. Dengan susah payah ia berusaha untuk bangun. “Aku akan pulang sayang” katanya dalam hati seakan menjawab semua ketakutan istrinya. Ia selamat dari guncangan besar itu. Namun tidak demikian dengan lampu kristal yang tepat berada di atas kepalanya. Sepersekian detik lampu itu jatuh dan langsung menghujam tubuhnya. Semua orang semakin panik. tak berpikir untuk menyelamatkan orang lain karena mereka pun terancam bahaya. Hiruk pikuk makin hebat, Suami malang itu meninggal karena lampu besar yang menimpa tubuhnya dan injakan kaki orang-orang yang berebut untuk keluar. Perempuan yang perutnya membuncit itu sedang memandangi foto perkawinan mereka dan mengelus perutnya “Sabar ya sayang. Sebentar lagi ayah akan pulang”.

“Ayaaaaaahhh…tolong! ada gempa!!!!” hanya itu teriakan bobby ketika terjatuh karena guncangan di selasar hotel lantai 18 itu. Guncangan itu tidak bertahan lama. Mungkin hanya sekitar 2 detik. Namun cukup untuk membuat orang-orang dewasa yang berada di lantai itu berhamburan keluar dengan pakaian seadanya. Ia masih ingat dengan jelas ucapan ayahnya ” ade, kalo ada hal buruk ade jangan panik ya. Inget, kita punya Allah. tetap tenang, insya allah ade akan baik-baik aja.” Bobby tersenyum. Dengan perlahan ia bangun untuk menuju kamarnya. Setelah berhasil menemukan bola putihnya, ia mengunci kamar dan bergegas turun bergabung dengan kedua orangtuanya untuk sarapan. Dengan tergesa ia berjalan ke arah lift. Masih dilihatnya orang-orang yang panik dan menangis. “Pasti mereka tidak punya ayah sehebat ayahku.” ucapnya dalam hati. “Ayah, aku tidak panik dan menangis. Aku berani. Aku sudah besar kan ayah?” senyumnya mengembang ketika menyuarakan itu lagi di dalam hatinya. Tangannya memeluk bola putih bersih pemberian ibunya. Tidak sabar ia menunggu bola itu berisi tanda tangan para pemain luar negeri yang diidolakannya. Ting, Pintu lift terbuka. Di dalamnya kosong. Bobby melangkahkan kaki masuk. Ia hanya sendiri. Semua orang memilih untuk turun menggunakan tangga. Tapi tidak dengan Bobby. Bobby berani. Ting. pintu menutup. kemudian menekan lantai tujuannya dan menunggu.
Di kepalanya berputar rencana hebat. Bagaimana ia akan memamerkan kepada seluruh teman sekolahnya bola yang berisi tanda tangan pemain MU dan foto bersama Rio Ferdinand. Untung kedua orangtuanya mau mengerti. Jika tidak, mau dikemanakan muka bobby setelah ia berceloteh ke tiap orang yang dijumpainya bahwa ia akan bertemu MU.
Ting. Lift terbuka. Bobby sudah sampai di lantai yang dituju. Ia melangkah ringan masih dengan bola putih itu di pelukannya. 1,2,3 langkah dan ia terdiam. Matanya membelalak. Kakinya gemetar. Lututnya kaku. Teriakan-teriakan di sekelilingnya berubah menjadi dengung. Bolanya terlepas. menggelinding ke arah simbahan orang yang terkapar layu digenangi darah. Itu detik terpanjang dalam hidupnya. Kilasan-kilasan tawa, nyanyian yang biasa dikumandangkan ibunya di dapur, ayah yang selalu membelanya, ayah yang hebat dan dapat melakukan semua hal dengan sempurna. kilasan itu berputar seperti film yang acak-acakan dalam hitungan detik. Matanya mulai berbayang, degup jantung kencang. “Ayaaahhhh, Ibuuuuuu…” Ia lari. mencari kedua orangtuanya di tengah pikuk manusia. tak diperdulikan lagi bola yg skrg sudah berubah warna menjadi merah. Berlari dengan tetes keringat. Bertabrakan dengan banyak orang dewasa. Tersandung manusia yang menggelepar.Akhirnya, Sirene itu terdengar, ambulance itu meraung kemudian berakhir di tanah yang basah, dan Bobby yang kehabisan air mata terdiam rapuh.

Namanya Bobby. Kemarin 9 tahun dan hari ini 10 tahun. Ia mendapatkan hadiah tak terduga di ulang tahunnya. Bukan hanya bola dan tanda tangan pemain bola favoritnya. namun juga kematian orangtuanya.

Penulis: Ding Widi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here