Thursday, August 11, 2022
HomeBudayaKisah Mainan Kayu

Kisah Mainan Kayu

Bila kita pergi ke Pasar Minggu dari arah Pancoran, beberapa puluh meter setelah melintas pertigaan Taman Makam Pahlawan Kalibata, kita akan menjumpai beberapa kios mainan anak-anak yang terbuat dari kayu. Rata-rata mainan tersebut berbentuk replika mobil yang sehari-hari biasa kita lihat seperti Bajaj, truk, bus kota, dan lainnya.

Adalah seorang bapak yang biasa dipanggil Pak Umar, sejak tahun 1970 telah merintis usaha pembuatan dan penjualan mainan tersebut di daerah Kerawang, Jawa Barat. Hingga kini usaha tersebut masih berdiri walaupun tidak sedikit mainan anak yang telah tersentuh perkembangan teknologi.

Menurut Toni, penjaga kios yang juga keponakan dari Pak Umar ini mengatakan bahwa mainan seperti ini dapat bertahan karena memang harganya terjangkau. “Coba kalau kita lihat mobil-mobilan sekarang, yang kecil aja bisa sampai tiga ratus ribu, “ katanya. Namun ternyata mereka yang membeli mainan ini tidak hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah, tidak jarang orang yang bermobil mewah pun juga ingin memilikinya. Bahkan turis asing pernah datang beberapa kali memborong mobil-mobilan kayu itu.

Para turis tersebut biasanya tertarik dengan replika Bajaj dan Metro Mini, yang dapat mereka jumpai di kehidupan sehari-hari di Jakarta. Dan kebanyakan dari mereka memesan dalam jumlah besar yang akan dibawa ke negara asalnya sebagai cindera mata. Pernah suatu pesanan besar datang, namun karena keterbatasan tenaga dan waktu yang diberikan amat sempit, maka mereka harus menolak pesanan tersebut karena merasa tidak mampu. Maklum, mainan-mainan kayu tersebut masih dibuat dengan tangan. Bengkel pembuatan mainan-mainan tersebut berlokasi di Kerawang, sedangkan kios di Kalibata itu hanya merupakan ‘show room’nya saja.

Mainan yang terbuat dari tripleks ini dijual dengan harga antara Rp. 15.000 hingga Rp 85.000. Untuk mainan yang khusus dipesan biasanya lebih mahal, karena ukurannya lebih besar, lebih detil dan ada target waktunya. Dari hasil penjualan tersebut, pria 24 tahun ini dapat memperoleh sekitar Rp. 300.000 hingga Rp. 500.000 per bulannya. Pendapat sebesar itu pas-pasan untuk menghidupi istri dan kedua orang anaknya di bilangan Serang, Jawa Barat. Pernah juga ada masa sepi di mana penghasilan sama sekali tidak datang, misalnya ketika jaman-jaman kerusuhan Mei ’98, atau ketika ada demonstrasi. Selain itu, Toni pernah mengalami kesialan beberapa kali, misalnya waktu ada pencuri yang berpura-pura menjadi pembeli, membawa kabur mainannya ketika ia sedang lengah. Pernah juga ada pembeli bersedan, yang seolah-olah memesan banyak. Dan ketika ia sedang mencicil memasukkan mainan-mainan tersebut ke bagasi, si pengendara sedan lantas tancap gas membawa beberapa mainan yang sudah terlanjur masuk bagasi. Toni hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan orang yang seharusnya, paling tidak dari penampilannya, mampu membayar dengan halal.

Toni mengaku bahwa mutu mainan-mainan kayu yang sekarang ini ia jual tidak sebaik yang pernah dibuat pada tahun-tahun awal sampai dengan pertengahan 90-an. Dulu, mainan-mainan itu dibuat dengan tingkat kemiripan yang lebih tinggi misalnya dengan memberi detil-detil seperti tempat duduk dan setir, atau lukisan/cat yang lebih detil. Saat ini, jika mainan-mainan tersebut mau dipertahankan dengan tingkat detil yang setinggi dahulu, maka harga jualnya akan tinggi, sehingga tidak lagi mampu bersaing dengan mainan-mainan yang dibuat di pabrik. Jika tidak mampu bersaing dalam hal harga, maka usahanya tidak akan bertahan lama. Itulah sebabnya Pak Umar memutuskan untuk berkompromi dalam soal kualitas, tak lain supaya harga mainan buatannya tetap terjangkau.

Selain menjual mobil-mobilan kayu, mereka juga menjual kincir angin tradisional, yaitu kincir angin yang diberi ornamen karakter Petruk dan Gareng yang seolah-oleh memutar kincir itu jika angin bertiup. Oleh bengkel Pak Umar, karakter yang ada bisa diganti-ganti sesuai pesanan, bukan hanya figur Petruk Gareng saja. Ketika Sekitarkita secara guyon menanyakan apakah mereka bisa mengganti figur Petruk-Gareng dengan figur pejabat atau artis terkenal misalnya, mereka menyanggupi, asalkan ada contoh fotonya.

Bengkel Pak Umar bukan satu-satunya kios yang menjual mobil-mobilan dan kincir angin tradisional di ruas jalan itu, ada dua kios lainnya saling berjejer, yang menjajakan barang dagangan yang serupa. Entah sampai kapan para pedagang mainan anak tradisional ini bisa bertahan menghadapi perubahan jaman yang tidak bersahabat kepada pengusaha tradisional. Jika mereka sudah harus berkompromi dalam soal kualitas, semoga mereka tidak harus “berkompromi” dalam soal eksistensi mereka.

RELATED ARTICLES

10 COMMENTS

  1. Semoga toko mainan anak tradisional ini tetap bertahan dan ada generasi yg meneruskan usaha ini,saya yg tinggal di daerah saat ini sudah jarang menemukan toko yg menjual mainan anak tradisional atau yg terbuat dari kayu,kalau memang bisa saya pribadi berkeinginan utk menjalin usaha ini di daerah tempat saya tinggal. Mungkin produk mainan ini bisa yg lebih spesifik ibukota misalkan Bajaj atau bis kota,monumen Monas dsb. Semoga pesan ini mendapat tanggapan positif dan ada kabar baik,terima kasih.

  2. wah tempat itu fav. bgt buat gw. zaman gw masih skul SD ’90an. gw sering nangis klo lwt situ, kudu wajib,harus beli truk/bis. tempat yg jualan dekat rumah eyang.

  3. itu tempat nya daerah mana?karawang sebelah mana?
    pliss banget ni di follw up ke email saya atau bales…
    lagi butuh ni..
    makasih

    • Bung Adhi, kami hanya dapat informasi bahwa lokasinya di Karawang, Jawa Barat. Jika kamu tertarik untuk dapat informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi tokonya. Mungkin mereka akan memberikan alamat workshopnya dengan senang hati

    • Toko yang di Pasar Minggu ini kami tidak menyimpan nomor telponnya, namun bisa didatangi langsung dengan patokan persis di sebelah barat pagar Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tidak terlalu sulit mencarinya.

      salam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular