Tuesday, August 16, 2022
HomeBudayaCerita dari Maluku: Episode 7 - Tentang Negeri Nusa Ina

Cerita dari Maluku: Episode 7 – Tentang Negeri Nusa Ina

24 Feb. Aku bertanya pada teman-temanku, apakah mereka mendengar gonggongan anjing bagai koor disertai lolongan panjang mirip suara serigala ke arah perbatasan beberapa hari ini? Ternyata mereka mendengar dan merasakan hal yang serupa denganku. Vivi bahkan heran dengan hadirnya mimpi-mimpi yang tak ia pahami. Aku pun demikian, dan itu membuat tidur kita tak nyenyak. Yang menghiburku adalah ketika siang menjelang atau terkadang di malam hari, sayup-sayup petikan ukulele memenuhi udara, mengisi kehampaan.

Aku ke dapur supaya bisa ngobrol dengan mama Tina dan mumpung suaminya pergi ke kebun. Aku tak respek pada sang purnawirawan, suaminya, yang miskin penuturan adapt tapi suka mengisahkan kebesarannya di medan tempur Irian Jaya. Pulau Buru dan Timor Leste. Ia selalu memotong pembicaraan mama Tina dan mengalihkan dengan kisah-kisah kebesarannya itu. Ia orang Wetar, sebuah pulau gersang di sebelah utara Pulau Timor. Kupernalkan dulu riwayat tempurnya. Menilik fotonya, ketika masih muda, bolehlah dikatakan ia cukup ganteng. Perawakannya tinggi dan langsing (sampai sekarang). Alkisah, dulu ia mendaftar di angkatan laut (oh, nak, katanya ia pandai mengemudikan kapal) dan angkatan darat Ambon. Angkatan darat memanggilnya terlebih dahulu dan langsung ia masuk Pendidikan tahun 1962. Pada saat sedang Pendidikan, pihak angkatan laut memanggilnya. Wah, ia bingung! Tapi, ia tak mau setengah-setengah dan akhirnya tetap melanjutkan pendidikannya di angkatan darat. Setelah lulus ia ditempatkan di Batalyon 731, bagian tempur. Ia keluarkan album-albumnya, secara khusus menunjukkan fotonya ketika sedang in action di medan laga pada kami. Nah, lalu ia dikirim ke Irian Jaya pada tahun 1967 untuk operasi Trikora. Setelah kembali dari sana, pada tahun 1971 ia ditugaskan ke Pulau Buru, katanya untuk menjaga “Musuh-musuh yang menghancurkan Negara”, sampai tahun 1979. Ia tampak terkejut ketika aku bertanya tentang pengalamannya menjaga Tapol G 30 S di sana. “Uthe tahu darimana? Ada sodara di sana?”. Aku menggeleng dan kujelaskan bahwa aku gemar membaca sejarah.

Lalu kutanya mengapa orang-orang itu dihukum di Pulau Buru. “Oh, dorang pinter-pinter, katanya professor-profesor. Tapi dorang mau menghacnurkan negara yang kita punya. Jadi, dorang punya barak dipagar kawat dan katong jaga sambil bawa senjata!”. “Apa dorang punya muka seram-seram sampai dijaga begitu?”, tanyaku lagi. “Aih tidak, tapi dorang berbahaya!”. Setelah dari Buru, ia dikirim ke Timor Timur pada tahun 1982 sampai 1989. Tapi, sekali lagi nak, ia hanya menceriterakan dirinya yang makan apa saja di hutan dan selalu dalam keadaan waspada. Aku sungguh keberatan terhadap cara dia memperlakukan isterinya, yang menurutku seperti komandan di medan tempur memberi perintah ke anak buahnya.

Pagi ini sang purnawirawan berpangkat sersan kepala itu pergi ke kebun. Mama Tina mengeluh tentang sulitnya hidup setelah kerusuhan. “Pensiun bapak itu Rp 790.000,- Tapi harga beras sekarang Rp 3000,-/kg (jenis beras yang di Jawa disebut beras Dolog, yang kualitasnya pera atau keras); bawang merah Rp 13.000,-; bawang putih Rp 8000,-. Kalau minyak goreng seng terlalu masalah, karena katong bisa biking dari kelapa sendiri. Beta lihat di pasar harganya Rp 3000,-/kg. Itu harga gula mahal sekali, waktu konflik sampai Rp 10.000,-/kg sekarang Rp 4500,- Garam saja waktu katong mengungsi harganya Rp 750,- 1 cupa. Sekarang yang bikin sulit katong harga minyak tanah, karena listrik padam selalu. Tiap hari beta beli minya tanah harganya I liter Rp 1250 tapi suka jua yang jual sampai Rp 1500,-. “. Berapa banyak kaum mama yang pada akhirnya menanggung beban pada tingkat reproduksi social dalam satuan rumah tangga? Kebetulan mama Tina, dalam penghitunganku termasuk berpunya. Sebagai sekretaris desa ia menerima honor Rp 200.000,- dalam tempo kadang-kdang 3 bulan diberikan dan lebih sering baru 6 bulan diterimanya. Kuulangi, nak, besarnya honor sekian itu bukan dalam hitungan per bulan, sehingga ia menerima rapel. Sama sekali tidak. Memang mama Tina bukan pegawai negeri, aku yakin ia menjadi sekretaris desa karena dipilih dalam artian kerelaan. Ketika kerusuhan berlangsung, gaji pension suaminya terlambat diterima sampai 2 bulan, karena siapa yang berani mengambil gaji di kantor pos yang rutenya termasuk wilyaha rawan?

Mama Tina mengisahkan kembali peristiwa Desember 1999 yang menghancurleburkan kehidupan masyarakat di sana. Tiba-tiba mama Tina meletakkan pisau yang sejak tadi dipergunakan untuk mengupas kulit kasbi (cassava atau singkong). Matanya menerawang suaranya meninggi: “Tanggal 27,28, 29 itu katong masih tolong orang dari desa sebelah yang mengungsi ke balai desa. Eh, tanggal 31 desa Haruru diserang jua. Mereka itu Laskar yang pake baju putih panjang dan banyak sekali jumlahnya. Katong lari ke Batalyon. Bapak (suaminya) dan laki-laki masih tinggal untuk jaga kampung dan pertahankan desa. Itu semua senjata apa saja, bahkan pisau dapur, dikumpul untuk hadapi Jihad. Dorang masuk kemari sampai ke lorong depan rumah itu. Oh,…..mengerikan sekali! Mudah-mudahan katong seng pernah lagi alami lagi. Katong mengungsi di Batalyon sampai 3 bulan. Untuk hidup, katong beli bahan pangan di koperasi Batalyon atau titip dorang (maksudnya tentara). Setelah itu katong pi ke Sorong, ke rumah anak yang di sana. Dorang belum kerja tapi punya tanah. Beta dan si Ona pi ke Halong (Ambon) dulu baru naik kapal Dobonsolo ke Sorong. Katong dikawal Batalyon. Ada jua kapal misi (Katolik) bawa orang-orang Tanahnahu ke Sorng dan Manado. Bapak tinggal saja di sini, beta dengan Ona di Sorong sampai 1 tahun. Setelah kembali ke sini, hidup jadi susah. Beta punya teman di wilayah muslim tapi kalau mau ke sana pikir kemuka (dulu). Kalo dorang kemari boleh, karena desa katong bisa untuk muslim dan Kristen”.

Adalah menarik, mengapa negeri Haruru dapat menampung dua komunitas agama tersebut. Sekali lagi pertanyaanku apakah karena markas Batalyon 731 tereltak di sini? Iburaja negeri haruru, mama Hana Matooke yagn gesit itu menuturkan:” Beta ingin negeri yang beta pimpin ini menjadi benteng. Beta punya prinsip seng ikut urusan negeri tetangga. Negeri beta harus aman dan bisa terima semua pihak. Dulu, beta pelan-pelan datang dan dekati pengugnsi yang muslim supaya tinggal di sini. Mulanya tampak takut, tapi dengan pendekatan dan jua atas bantuan Tim Relawan dan lain-lain, akhirnya negeri Haruru bisa menampung pengungsi campuran”. Aku semapt berkenalan dengan suami mama Hana, entah siapa namanya, yang kuingat benar bahwa ia anggota Kodim. Aku tanyakan hal itu pada Nus Ukru dan anehnya temanku malah tak tahu. Sebab, dalam lokakarya-lokakarya ia sering ikut dan suaranya cukup tajam dalam mengecam miltier. Nah, aku belum berani berkomentar banyak. Tetapi pengalaman banyak mengajarkan tentang kekuranghati-hatian kita hingga mencelakakan banyak hal.

Dari dapur mama Tina, suara khotbah dalam irama Gregorian terdengar dari radio mama Tina yang diputar keras-keras. Aku heran, darimana liturgi Katolik itu berasal, ternyata dari Ambon. Karena orang-orang Haruru mayoritas Protestan. Ibadah itu menyadarkanku bahwa hari ini Minggu.

Hari Minggu berarti hari ibadah orang-orang di negeri ini. Itu berarti seluruh kegiatan hidup terhenti dan memusat di gereja-gereja. Bahkan transportasi pun ikut libur. Seperti halnya kegiatan orang Islam terhenti pada hari Jum’at dan semua memusat ke mesjid. Bagiku, tiap hari telah bersama Tuhan jadi aku tak musti menghentikan kegiatan-kegiatan hidupku. Karena hari ini aku pergi ke Waipia.

Hari ini aku berkunjung ke posko Tim Relawan, di desa Waru, kecamatan Waipia.
Jarak dari Haruru ke desa Waru kucatat 28 km atau lebih kurang 1 jam. Melewati jalan aspal Trans Seram yang cukup halus dan lebar badan jalan sekitar 4 meteran. Setelah melewati markas Yonif 731 dan pasar Makariki, aku hanya menyaksikan semak belukar di kanan kiri jalan. Tetapi di sebelah dalamnya tampak pohon-pohon jeruk, coklat tak terawat. Di sela-sela semak itu, nak, ada banyak puing-puing rumah.

Ketika kita masuk ke lorong desa ini, tepat di depan mata, berdiri megah tempat ibadahnya orang Kristen. Kalau menurut fengshui, gereja itu pada posisi tusuk sate. Konon kurang bagus Mobil kami kemudian membelok ke lorong kanan, melewati rumah-rumah dari kayu yang tertata rapi di kiri dan kanan. Lorongnya pun cukup mulus, meski lebih banyak pasir daripada aspal. Pohon furing yang berdaun kuning, hijau, merah, menghias hampir setiap rumah. Kami turun di posko, sebuah rumah dari batu bata dan berlantai keramik. Oh, merebahkan diri di lantai ini terasa mendinginkan tubuh dari panas yang sangat terik. Nus menawari air nyiur muda. Sebelumnya, aku menelan pil anti malaria seperti yang mereka anjurkan, karena di Seram ini gudang nyamuk itu. Mereka memetik nyiur muda dari pohon-pohon yang bertebaran di kebun. Di belakang kebun, ditanami pohon cokelat, kasbi, kedondong dan berbagai macam.

Di sebelah rumah posko adalah rumah orang tua Nus. Aku beratandang ke situ dan pada dasarnya berkenalan dengan dialek dan tradisi yang berbeda dengan Maluku Tengah. Mereka yang bermukim di Waipia adalah transmigran dari Kepulauan Teun, Nila dan Serua, di Maluku Tenggara Barat. Mereka gemar bertutur, bicaranya cepat dan dialeknya sukar kupahami. Lalu datang seorang laki-laki yang dipanggil Tete (kakek) Kuna. Nama formalnya Conrad Ukru. Ia membawa juk (ukulele) buatannya sendiri. Ternyata ia seorang seniman dari Tenggara Barat pemain musik Hawaian, yang bakat alamnya itu terbunuh setelah ditransmigrasikan ke mari. Teman-teman meminta ia memainkan juk tetapi ia tampak malu-malu. Tetapi setelah dituangkan bir ia mulai menyanyi sambil memetik juknya itu. Oh, nak, ia munim bir seperti minum air putih. Ia menyanyi dengan suara patah-patah dan tak jelas (mungkin karena giginya banyak yang rontok). Ukulelenya sangat mungil, bahannya dari kayu yang ada di sekitar desa tanpa dipoles dengan plitur atau cat. Menurut cerita Nus, juk itu tak pernah lama di tangan Tete, karena selalu diambil orang maupun anak-anak satu kampong sini. Nanti ia akan bikin lagi dan hilang lagi. Juk itu pun bisa ditukar dengan tembakau. Aku tertarik. Suatu hari ia akan kucatat sebagai profil.

Anakku, aku sedang berada di desa Waru. Ah, namanya seperti namamu: Kembang Waru. Kerinduanku padamu menghujat seluruh daya yang kumiliki……karena aku telah menjadi orang tua yang alpa menghadirkanmu sebagai energi baru kemurahan alam semesta. Juga saudaramu kembang-kembang lain: kembang kantil, kembang kenanga, kembang kamboja, kembang gading, kembang sepatu, seringkali aku memimpikan sebagai bunga-bunga yang akan tumbuh dan mekar di atas negeri yang sedang kudongengkan padamu.

Tetapi, aku belum dapat ceriterakan padamu hari ini. Baterai komputerku habis dan listrik padam.

Ruth Indiah Rahayu

RELATED ARTICLES

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular