Thursday, December 1, 2022
HomeKemiskinanEnjoylah Di Jakarta?

Enjoylah Di Jakarta?

Tahun 2005 ini pemerintah provinsi (Pemprov) Jakarta memiliki sebuah program yang diberi nama Enjoy Jakarta. Melalui program ini diharapkan akan semakin banyak orang yang berkunjung dan mengeluarkan atau membelanjakan uangnya selama di Jakarta. Beberapa brosur dan media memuat promosi program ini secara serius dan besar-besaran agar dibaca dan melahirkan ketertarikan mengunjungi kota Jakarta. Dalam promosinya, pihak penyelenggara program menampilkan informasi tentang tempat-tempat menarik seperti pusat perbelanjaan, tempat hiburan, tempat rekreasi serta tempat menarik lainnya yang dapat dikunjungi selama berada di Jakarta. Ada beberapa hal yang menarik dibahas secara kiritis melalui kampanye program Enjoy Jakarta ini. Salah satunya adalah pemikiran yang berpendapat sepertinya Jakarta kekurangan pengunjung sehingga perlu membuat program promosi khusus agar dikunjungi.

Selama ini Jakarta dikenal sebagai kota yang cukup padat dengan jumlah penduduk di siang hari sekitar 12 juta orang dan di malam hari sekitar 10 juta orang. Selisih jumlah penduduk malam dan siang hari itu bukankah dapat diartikan ada sekitar 2 juta orang secara tetap mengunjngi Jakarta. Mereka dikenal sebagai pekerja penglaju dari beberapa kota sekitar Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Bukankah ini bagi Jakarta merupakan sebuah angka besar pengunung yang potensial dan harusnya dijadikan sumber pendapatan daerah? Jumlah ini jelas merupakan sebuah potensi secara ekonomi apabila mereka difasilitasi secara baik. Berangkat kenyataan itu, tulisan ini hendak melihat seberapa besar dan kontribusi apa saja yang di berikan para penglaju pada pendapatan daerah kota Jakarta. Serta mencoba melihat sejauh mana kesiapan Jakarta sebagai kota kunjungan wisata dikaikan dengan kondisi pelayanan transportasi publiknya.

Potensi dengan jumlah pengunjung tetap sekitar 2 juta orang setiap hari kerja bukanlah sedikit jika ini diatur dan dikembangkan secara baik. Selama ini keberadaan para penglaju tersebut hanya dilihat sebagai salah satu penyebab buruknya wajahnya Jakarta sebagai Ibukota Negara yang selalu membuat macet, penuh polusi dan memboroskan energi bahan bakar minyak. Lihat saja di jalan-jalan atau pintu-pintu tol pinggir Jakarta, pada pagi hari dipadati oleh kendaraan yang akan masuk dan sore hari oleh kendaraan yang akan keluar dari Jakarta. Buruknya lagi kendaraan bermotor seperti mobil atau motor itu banyak tidak maksimal pengunaannya. Mobil-mobil pribadi yang mewarnai kemacetan itu hanya diisi oleh 1 atau 2 orang saja dan motor pun hanya ditumpangi oleh satu orang. Kepadatan atau kemacetan itu juga menjadi terus menguasai seluruh hari jalan-jalan di tengah Jakarta. Sepertinya di Jakarta ini tidak ada lagi jalan atau hari tanpa kemacetan. Salah satu penyebab kondisi buruk ini dialamatkan kepada pola transportasi para penglaju yang diangap hanya datang bekerja atau membuat macet dan mencari keuntungan di Jakarta serta seolah-seolah tidak memberikan kontribusi apa-apa. Apakah memang para penglaju ini tidak memberikan kontribusi dan semua masalah di atas pantas dibebankan pada mereka saja sebagai penyebanya?

Beberapa waktu lalu, penulis melakukan penelusuran mencari tahu tentang hal ini dan dibantu oleh seorang kawan operator angkutan umum yang pernah mengoperasikan angkutan penglaju (commuters). Rute angkutan penglaju dikelola dengan 4 unit bus ini melayani perjalanan para pekerja dari kotanya di Bogor Jawa barat ke Jakarta, pulang pergi setiap hari kerja. Jarak tempuh angkutan penglaju yang dikelolanya ini berjarak tempuh sekitar 40 Km. Penumpangnya dilayani secara reguler, berangkat dari sebuah perumahan di Bogor dan berhenti di lokasi sekitar Ratu Plasa Jakarta Selatan dengan membayar ongkos Rp 10.000 setiap orang sekali jalan. Perlahan tapi pasti setelah berjalan sekitar satu bulan, rute angkutan penglaju kawan penulis tersebut semakin dikenal oleh publik kota Bogor dan berhasil memiliki pelanggan tetap sekitar 200 an penumpang yang bekerja di sekitar jalan Sudirman, Thamrin dan Jakarta Kota. Tingkat ekonomi para pelangannya itu berpenghasilan rata-rata Rp 5 juta setiap bulannya. Kebanyakan dari penumpangnya itu merupakan para pekerja muda yang masih memiliki dua atau tiga anak memilih tinggal di Bogor karena lebih murah harga rumahnya dibandingkan di Jakarta.

Para penumpang dari kota Bogor ini menuturkan, bahwa mereka memilih angkutan penglaju karena mendapatkan banyak keuntungan dan kenyamanan dalam perjalanan. Salah satu keuntungannya adalah mereka mengatakan bahwa jadwal perjalanan kerja dapat diatur karena sekali jalan dari Bogor ke Ratu Plasa hanya memakan waktu sekitar 45 menit karena melalui jalan tol dan bus tidak berhenti di tengah jalan. Kemudahan berikutnya, para penglaju ini dapat dengan mudah melanjutkan perjalanan ke tempat bekerjanya, apabila diperlukan dengan menggunakan Trans Jakarta melalui salah satu haltenya di sekitar Ratu Plasa. Melalui Trans Jakarta (Busway) yang melayani rute tengah kota dari Blok M ke Jakarta Kota (sepanjang 12,9 Km) membantu para penglaju menyelesaikan perjalanannya. Dituturkan juga oleh para penglaju itu bahwa mereka setelah turun dari Trans Jakarta tinggal berjalan kaki saja menuju tempat bekerja. Perjalanan bekerja yang mudah diakses oleh kendaraan umum ini membuat mereka meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah.

Semua kemudahan itu selanjutnya mendorong para penglaju beralih memakai jalur angkutan penglaju dan menyambung Trans jakarta karena lebih nyaman, aman dan murah. Bagi mereka angkutan penglaju ini dikatakan sebagai alat penghubung yang sesuai kebutuhan sehingga memudahkan mereka mengakses Trans Jakarta. Sebelumnya mereka kesulitan sekali mengakses Trans Jakarta walaupun tempat bekerjanya berada di sekitar rute koridor satu Trans Jakarta. Pengoperasian angkutan penglaju seperti ini juga menumbuhkan hubungan yang baik antara penumpang, pengemudi dan si operatornya. Para penumpang dan si sopir, misalnya saja bisa saling melakukan komunikasi dan saling menegur apabila si sopir mengebut atau si penumpang terlambat datang ke halte penjemputan. Kawan operator itu pun bercerita bahwa sopir-sopirnya tidak perlu ngebut untuk mengejar setoran karena mereka telah diberikan gaji dan uang makan harian secara tetap.

Data di atas menunjukkan, bahwa keberadaan angkutan penglaju memiliki banyak peran positif dalam mengurangi beban masalah transportasi dan kemacetan yang ada di Jakarta. Setidaknya angkutan penglaju itu telah mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi, apabila ini dikembangkan setidaknya akan mengurangi kemacetan akibat dari padatnya lalu lintas di jalan membludaknya penggunaan kendaraan bermotor pribadi. Berkurangnya kemacetan ini juga berarti akan diikuti oleh berkurang tingkat pencemaran serta pemborosan penggunaan bakar bakar minyak bagi kendaraan bermotor. Sisi positif lain yang menurut kawan operator tersebut dikatakan, bahwa angkutan penglaju juga memberi kontribusi ekonomi atau pendapatan daerah bagi Jakarta dan Bogor. Diuraikan olehnya beberapa pendapat daerah yang bisa diberikan cukup besar, seperti:

1.Untuk kota Bogor;

Bea Balik Nama kendaraan bermotor: Rp 25 juta hingga Rp 30 juta tiap unit bus,
Pajak kendaraan bermotor: Rp 5 juta setiap tahun untuk tiap bus
Biaya uji kelayakan kendaraan bermotor: Rp 300.000 setiap enam bulan untuk tiap bus

2.Untuk kota Jakarta;

Pajak penghasilan sekitar Rp 1 juta setiap tahunnya dari tiap penglaju dengan penghasilan sekitar Rp 5 juta bagi yang berkeluarga memiliki anak 3 orang.

Uraian angka-angka ini menambah data dimana para penglaju tidak bisa dengan mudah dikatakan sebagai pembawa masalah, mereka memiliki kontribusi yang cukup besar. Kontribusi itu akan bertambah besar apabila mereka sebagai penglaju benar difasilitasi kebutuhannya akan transportasi secara baik dan nyaman. Sayangnya saat ini angkutan penglaju yang beroprasi dengan perhentian akhir di Ratu Plasa dengan ongkos Rp 7.000 tiap penumpang baru beberapa saja, yakni:

Rute Bintaro beroperasi dengan 6 unit bus dan pelanggan sekitar 360 orang
Rute Bekasi, 2 trayek masing-masing beroperasi dengan 5 bus dan total pelanggan 600 orang.
Coba dibayangkan berapa besar pemasukan dan dampak positifnya apabila para pekerja penglaju yang menurut perkiraan sekitar 2 juta orang itu diberikan fasilitas angkutan penglaju yang mudah diakses? Beberapa penumpang yang menjadi pelanggan dari jurusan lain juga mengungkapkan hal yang sama tentang alasan mereka memilih angkutan penglaju sebagai alat transportasi bekerja mereka. Kemudahan dan kenyamanan karena angkutan tersebut mudah diakses sehingga memberikan keleluasaan para penglaju mengatur waktu perjalanannya. Pengaturan waktu yang sedikit lebih dapat dihitung ini apabila bisa dikembangkan maka akan memungkinkan para penglaju berjalan-jalan sebentar di Jakarta atau berbelanja sebelum pulang. Bukankah ini berarti akan membuat pertambahan pendapatan lagi bagi kas daerah Pemprov Jakarta?

Fakta besarnya jumlah para penglaju dan kontribusinya itu menunjukkan bahwa Jakarta sebenarnya tidak kekurangan pendatang sebagaimana kekuatiran yang tersirat di balik program Enjoy Jakarta. Sebenarnya Jakarta dapat dijadikan salah satu kota tujuan kunjungan wisata asal ada dukungan dalam melanjutkan langkah-langkah perbaikan sarana transportasi dan memecahkan masalah kemacetan. Bisa dibayangkan, apabila Jakarta memiliki sarana transportasi yang nyaman dan mudah diakses oleh siapa pun, maka para wisatawan akan tertarik datang. Para wisatawan tidak perlu bingung dan takut berekreasi selama di Jakarta dan memiliki kenangan menarik untuk berkunjung kembali. Sebagai wisatawan tentunya saat akan datang ke salah satu kota wisata, yang dibayangkan adalah keindahan dan kenyamanan bukanlah kebisingan serta kemacetan. Berpijak dari gambaran di atas didapat pemikiran bahwa memang Jakarta bisa menjadi kota tujuan kunjungan wisata asal mau memberi perhatian perbaikan sarana lainnya seperti transportasi k agar memberikan rasa enjoy bagi pengunjungnya. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengarahkan agar angkutan umum menjadi alternatif transportasi bagi warga atau orang-orang berkepentingan dan mengunjungi di Jakarta. Pengalaman dioperasikannya angkutan penglaju di atas dapat dijadikan titik awal memulai sesuatu yang sederhana dan menarik.

Sayangnya memang model angkutan penglaju ini belum masuk menjadi bagian kerangka perbaikan sistem transportasi Jakarta. Sebenarnya angkutan penglaju bisa dikembangkan secara sistematis menjadi angkutan pengumpan (Feeder) bagi Trans Jakarta yang sudah dibangun. Hingga saat ini Trans Jakarta yang katanya memakai sistem Busway ternyata belum memiliki bus pengumpan sebagaimana disyaratkan agar sistem tersebut bisa berperan menanggulangi masalah trasnportasi manusia. Beberapa pengalaman negara lain dan literatur tentang sistem Busway memang menampilkan jarak tempuh bus pengumpan tidak lebih panjang dari koridor utamanya. Sementara itu selama ini nyata-nyata angkutan penglaju ini telah mampu menjadi bus pengumpan walau jarak tempuhnya lebih panjang dari Trans Jakarta.

Melihat kenyataan dan berbedanya kebutuhan masing-masing negara atau konteks tempat maka perlu adanya penyesuaian dalam menggunakan sistem busway sebagai alat penanggulangan transportasi di Jakarta. Penyesuaian itu perlu dilakukan agar sistem yang dibangun dapat lebih sesuai dengan kebutuhan dan lebih berkembang lagi tingkat manfaatnya. Tidak bisa begitu saja memaksakan sebuah sistem yang berasal dari “luar” di terapkan atau diadopsi tanpa memperhitungkan faktor kontekstualitas setempat. Tidak cukup hanya kepandaian atau keahlian tetapi juga harus diikuti oleh keberanian dan kreatifitas dalam mengimplementasikan sebuah sistem baru agar dapat menjawab kebutuhan yang ada. Bagi konteks Jakarta, mungkin tahap awal bisa saja feeder yang digunakan adalah seperti angkutan penglaju agar Trans Jakarta bisa benar-benar diakses dengan mudah serta murah. Model feeder seperti ini juga, apabila Pemprov Jakarta tidak memaksakan kehendak maka bisa menghasilkan kerja sama yang baik dengan kota-kota di sekitarnya. Kerja sama itu misalnya dilakukan dengan memberi peluang pada angkutan dari sekitar Jakarta menjadi feeder busway dalam konteks bagi-bagi rezeki atau pendapatan kepada daerah di sekitarnya agar sama-sama enjoy.

Selamat Ulang Tahun Jakarta!

6 Juni 2005

Azas Tigor Nainggolan, Kordinator Koalisi Warga Untuk Transportasi (KAWAT) Jakarta dan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) -Sekretariat: Jl. Pancawarga IV No:44, RT 003 RW 07, Cipinang Muara, Kalimalang, Jakarta Timur 13420. Telp/Fax: 021-8569008 HP: 0815 9977041, Email: azastigor@yahoo.com

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular