Kekexili: Mountain Patrol

0
423

Judul : Kekexili; Mountain Patrol
Jenis : Drama Aksi
Sutradara : Chuan Lu
Pemain : Duoboji, Zhang Lei, Qi Liang
Durasi : 90 menit
Tahun Produksi : 2004

Deskripsi Singkat

Film ini di awali dengan sebuah adegan perburuan Antelop di dataran Kekexili, Tibet yang kemudian berlanjut pembunuhan seorang patroli gunung. Patroli Gunung tersebut adalah kelompok relawan yang berusaha untuk menjaga habitat Antelop Tibet. Berita kematian penjaga gunung telah mengundang perhatian salah satu surat kabar di Beijing yang mengirimkan seorang wartawannya. Wartawan tersebut kemudian mengikuti perjalanan para patroli untuk mengetahui sepak terjang kelompok ini. Ganasnya alam dan kurangnya sumber daya telah membuat mereka harus kehilangan sebagian besar anggotanya. Pada akhirnya, perjuangan mereka tercapai. Walaupun harus mereka tebus dengan kematian sebagian besar anggota mereka

Kisah Para Patroli Gunung

Kekexili, sebuah dataran di Tibet yang berada di ketinggian 4.700 m dpl (dari permukaan laut) merupakan satu-satunya daerah yang menjadi tempat hidup Antelop Tibet. Pada tahun 1983, para pemburu mulai memburu antelop Tibet. Mereka mengambil bulu Antelop Tibet sebagai bahan wol yang harganya sangat mahal di pasaran luar negeri. Hanya dalam beberapa tahun, populasi Antelop tibet turun drastis. Dari satu juta ekor menjadi tidak lebih sepuluh ribu ekor. Perlahan tapi pasti, antelop tibet menuju kepunahan.

Film ini diangkat dari sebuah kisah nyata Patroli Gunung Kekexili (Kekexili Mountain Patrol), kelompok sukarelawan yang mencoba menjaga kawasan liar Kekexili. Kelompok sukarelawan tersebut dibentuk oleh Ritai pada tahun 1993 harus berhadapan dengan para pemburu Antelop Tibet. Saat itu, Kekexili belum menjadi kawasan cagar alam. Ritai dan kelompoknya berusaha untuk memperjuangkan Kekexili sebagai kawasan konversasi alam bagi habitat antelop tibet..

Ga Yu, Seorang wartawan dari Beijing kemudian ditugaskan untuk meliput sepak terjang dari kelompok ini. Pada awalnya, kedatangan Ga Yu di sambut dingin oleh Ritai. Namun sikap tersebut berubah saat Ga Yu dapat meyakinkan bahwa dia akan membantu perjuangan Patroli Gunung untuk mendapatkan status cagar alam bagi Kekexili.

Pada 1 November 1996, para patroli gunung bersama Ga Yu berangkat menuju dataran Kekexili untuk melakukan patroli rutin. Dengan membawa persenjataan dan perbekalan, mereka berangkat dengan rasa haru. Setiap keberangkatan patroli gunung, dianggap sebagai titik perpisahan setiap orang dalam kelompok tersebut, baik itu dengan keluarga maupun anggota lainnya. Kematian adalah taruhan bagi setiap orang tergabung dalam patroli gunung.

Tidak lama setelah melakukan patroli, mereka menemukan ratusan bangkai antelop tibet yang telah dikuliti oleh para pemburu antelop tibet. Kesedihan bercampur dengan kemarahan membuat mereka kemudian mengejar para pemburu. Tantangan alam serta terbatasnya logistik tidak membuat gentar. Mereka terus mengejar para pemburu. Pada akhir cerita, setelah kelompoknya tercerai berai, Ritai tewas ditembak oleh para pemburu. Kematian Ritai disaksikan oleh Ga Yu yang berada di bawah todongan senjata.

Dalam film ini, anda dapat menyaksikan panorama pegunungan Tibet yang indah yang begitu rupa di kemas dengan baik. Selain itu, aransemen musik tradisional tibet seakan terus mengiringi sepanjang menyaksikan film ini. Tidak salah jika Mountai Patrol meraih penghargaan dalam beberapa festival skala internasional, yaitu; Winner Special Jury Price dalam Tokyo International Film Festival, Best Film-Best Cinematography dalam 2004 Golden Horse Awards dan Don Quixote Ward dalam 2005 Berlin Film Festival.

Kelompok Relawan Yang Bertaruh Hidup

Terdapat beberapa hal menarik yang dapat kita tarik dari film ini. Pertama, semangat para patroli gunung untuk melindungi dataran Kekexili dari para pemburu. Mereka bahkan harus mempertaruhkan hidup mereka dalam bekerja. Ganasnya alam serta para pemburu yang tidak segan membunuh adalah acaman yang harus mereka hadapi.

Kedua, semangat kerelawanan yang begitu tinggi hingga dapat menggerakan para patroli gunung untuk melaksanakan tugasnya. Selama tiga berjalan, para patroli gunung tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah yang berkuasa. Mereka dengan terpaksa menjual sebagian kecil bulu antelop hasil sitaan untuk kebutuhan patroli. Mereka gunakan hasilnya untuk membeli senjata, amunisi dan kebutuhan selama bekerja.

Ketiga, nilai persahabatan yang mereka junjung. Kebersamaan yang begitu kuat terbangun di antara para anggota kelompok. Masa sulit yang mereka lalui bersama serta kepercayaan terhadap sahabat mereka menjadi pondasi yang kuat. Tergambar dengan jelas dalam film ini, setiap perpisahan merupakan titik awal dari kematian bagi para patroli gunung. Walaupun menyadari bahwa resiko menjadi seorang patroli gunung adalah kematian, mereka tidak bisa menyembunyikan kesedihan mereka saat salah satu dari mereka gugur dalam tugas.

Dengan latar belakang alam yang indah-namun mematikan-, film ini sarat dengan pemandangan pegunungan Tibet yang menawan. Hamparan putih salju yang tenang menghanyutkan diselingi dengan badai salju yang dashyat. Gurun yang tampak tenang dapat berubah menjadi tempat yang berbahaya.

Perjuangan Patroli Gunung pada akhirnya tercapai. Laporan yang dibuat oleh Ga Yu telah menghentak masyrakat Cina. Pemerintah Cina kemudian mengumumkan bahwa Kekexili adalah kawasan konservasi alam dan membentuk patroli gunung untuk melakukan perlindungan tersebut. Sampai saat ini, perjuangan para patroli gunung terus dikenang. Bahkan, perjuangan mereka dilanjutkan oleh para pencinta alam dengan berbagai cara. JIka anda tertarik untuk mengetahui tentang Kekexili, silahkan kunjungi http://www.kekexili.com/english

Syaldi Sahude, Redaktur Sekitarkita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here