Gas Rumah Kaca (GRK) dan Perubahan Iklim

0
1376

Gas rumah kaca (GRK) adalah gas-gas di atmosfer yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia. GRK terutama dihasilkan dari kegiatan manusia yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi, gas dan batubara) seperti penggunaan kendaraan bermotor, mesin industri dan penggunaan alat elektronik. Gas ini mempunyai kemampuan untuk menyerap radiasi matahari di atmosfer.  Kemampuan untuk menyerap radiasi matahari tersebut dikenal dengan nama Efek Rumah Kaca (ERK).

Pada kondisi yang normal, ERK “baik” untuk menghangatkan Bumi. Tanpa efek rumah kaca, bagian bumi yang tidak terkena sinar matahari akan menjadi sangat dingin, seperti di dalam freezer lemari es (-18C). Namun ERK akan menjadi “tidak baik” jika kandungan gas-gas rumah kaca di atmosfer Bumi semakin hari semakin meningkat.

Gas-gas di atmosfer yang dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia, misalnya gas dari pemakaian bahan bakar fosil seperti batubara, gas dan minyak bumi. Pemakaian gas-gas tersebut, dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat berarti setelah tercetusnya revolusi industri. Dari tahun 1970-2004, emisi GRK mengalami kenaikan 70 persen. ((Berita Kompas Cyber Media, Senin, 19 Desember 2007))

Meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer, mengakibatkan terperangkapnya radiasi matahari terjadi berulangkali, dan dalam jangka waktu yang relatif lama. Hal tersebut pada akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu permukaan bumi secara global. Peristiwa ini disebut Pemanasan Global (Global Warming)

Pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan pada unsur-unsur iklim seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan udara, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara. Perubahan unsur iklim tersebut akhirnya merubah pola iklim dunia, atau sering disebut dengan Perubahan Iklim (Climate Change).

Perubahan Iklim oleh karena semakin panasnya bumi menyebabkan pencairan es di kutub. Jumlah air yang ada di bumi pun bertambah, namun berat massa air laut menjadi berkurang. Hal ini pun berakibat pada pengurangan jumlah air hangat yang masuk dari daerah tropis.

Dengan adanya interaksi antara laut dan udara jumlah energi panas yang ada di atmosfer dan di permukaan laut, maka iklim di lintang menengah dan tinggi tidak lagi sehangat sebelumnya. Hal ini akan memicu terjadinya musim dingin dalam waktu panjang dengan suhu yang sangat rendah dari biasanya. Sebaliknya di wilayah tropis akan terjadi hujan yang singkat namun intensitas besar. Dan berpeluang besar terjadinya banyak badai. Seperti pada Februari ini, terjadi badai Nicholas di laut Jawa, sehingga menyebabkan tinggi gelombang mencapai 3-4 meter.

Badai yang sering terjadi, menimbulkan berbagai bencana alam. Angin puting beliung yang siap merobohkan bahkan menghancurkan bangunan penduduk. Kemudian ombak yang besar menghalangi kapal-kapal nelayan untuk mencari ikan, dan peluang masuknya air laut ke daratan semakin besar, menenggelamkan daerah-daerah pesisir dan merusak apa saja yang di laluinya. Masalah banjir yang terjadi di daerah-daerah pesisir dan dataran rendah, akhirnya bukan menjadi banjir musiman tapi adalah banjir yang berkepanjangan.

Sumber informasi :
Bumi Makin Panas (booklet).  2004.  Diterbitkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup, JICA dan Yayasan Pelangi.
Indonesia dan Perubahan Iklim (booklet). Program Iklim dan Energi , WWF-Indonesia. www.wwf.or.id/climate
Climate Change Scenarios for Indonesia (leaflet). 1999.  Diterbitkan oleh Climatic Research Unit (CRU), UEA, UK dan WWF.
Perilaku Ramah Lingkungan. 2007.  Website WWF Indonesia : www.wwf.or.id
Situs Oseanografi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here