Pemanasan Global dengan Persediaan Air

4
740

Banjir, kekeringan dan tanah longsor merupakan beberapa contoh bencana yang umumnya dikaitkan dengan kondisi perubahan iklim. ENSO (El Nino Southern Oscillation) merupakan salah satu fenomena alam yang berdampak penting pada iklim serta mengakibatkan bencana. Di Indonesia, ENSO kerapkali dikaitkan dengan kekeringan sedangkan La Nina dihubungkan dengan banjir.

El Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi laut dan atmosfer, yang ditandai dengan memanasnya suhu muka laut di Pasifik Equator, atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut positif. Fenomena El Nino menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan berkurang. Tingkat berkurangnya curah hujan ini sangat tergantung dari intensitas El Nino tersebut. Selain itu karena posisi geografis Indonesia yang dikenal sebagai benua maritim, maka tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino.  Sedangkan La Nina adalah fenomena mendinginnya suhu muka laut di Pasifik equator, atau anomali suhu muka laut di daerah tersebut negative. Fenomena La Nina ini berakibat curah hujan di Indonesia secara umum akan bertambah.

Perubahan aliran air, selain dipengaruhi oleh pemanasan global, juga disebabkan oleh perubahan tata guna lahan, penutupan lahan dan penggunaan air. Beberapa studi menyatakan bahwa, fluktuasi aliran air meningkat sejalan dengan pengurangan luasan tutupan hutan. Tingginya tingkat laju kerusakan hutan yang mencapai 1.6 juta ha pertahun, menyebabkan persoalan serius di beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Pada saat aliran air mencapai tingkat terendah, akan menyebabkan kekeringan. Sedangkan pada saat aliran air mencapai titik tertinggi, akan menyebabkan banjir. Temuan ini juga menyatakan bahwa resiko terjadinya kekeringan dan banjir meningkat dalam situasi terjadinya pemanasan global.

Peningkatan ataupun penurunan curah hujan, berpengaruh secara nyata terhadap jumlah air yang tersimpan dalam tempat penyimpanan air (reservoir), seperti waduk, danau, sungai, dll. Penurunan volume air pada tempat penyimpanan tersebut, secara signifikan turun selama musim kemarau. Penurunan volume air tersebut berpengaruh terhadap ketersediaan air terutama untuk wilayah urban. Sebagai contoh Jakarta, mendapatkan persediaan air minum dari Dam atau Bendungan Citarum. Pada musim kering yang parah, level permukaan air turun hingga level dibawah 75 m. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya persediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan semakin panjang masa kemarau, maka daerah yang mengalami kekurangan air menjadi semakin luas. Sumber air untuk PDAM/perusahan air minum lainnya menjadi berkurang.
Di sisi lain pada saat musim hujan yang ekstrem, banjir akan mengkontaminasi air bersih. Hujan deras juga akan meningkatkan tingkat kekeruhan air, dan hal ini akan meningkatkan biaya pengolahan air. Sementara itu, tanah longsor juga menyebabkan terkontaminasinya persediaan air bersih, sehingga akan terjadi krisis air bersih. Tayangan di televisi beberapa waktu lalu melaporkan bahwa, pasca banjir, tingkat pembelian air bersih dalam kemasan untuk kebutuhan memasak dan minum melonjak. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa, pemanasan global dapat menyebabkan krisis air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga akan air bersih, maka masyarakat, terutama ibu-ibu harus melakukan penyaringan air, sehingga menjadi layak untuk dikonsumsi. Atau banyak yang harus membeli air dengan harga yang relatif mahal. Hal ini berarti penambahan beban kerja dan peningkatan biaya pengeluaran rumah tangga. Terutama di wilayah perkotaan, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat terpaksa membeli air dengan harga yang sangat mahal. Di Jakarta, contohnya, masyarakat miskin harus membayar 5 – 10 kali lebih mahal daripada masyarakat kelas ekonomi menengah – atas.

Penulis: Septiva Herlin Artati

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here