Thursday, December 1, 2022
HomeResensi BukuMelihat Kembali Kehidupan Manusia Bersama Chekov

Melihat Kembali Kehidupan Manusia Bersama Chekov

… kemarin saya orang baik-baik, jujur, terhormat di mata orang banyak, tetapi saya hari ini penipu, pengecoh, pencuri… Berteriaklah sekarang, maki-makilah, desas-desuskanlah, merasa takjublah, kecamlah, buanglah, tulislah tajuk rencana, lemparkanlah batu, cuma… saya minta, jangan semua! Jangan semua!”

— Pengakuan, Anton Chekhov —

Ada ‘sesuatu’ di dalam buku-buku itu. Sepertinya setiap rangkaian kata yang ada dalam lembaran-lembarannya mempunyai daya sihir tertentu. Ia bisa membuat kita seperti orang gila: kadang merenung, tertawa geli, kesal, terharu, bersimpati atau bahkan terheran-heran. Ada banyak cerita yang bisa ditelusuri dalam buku itu. Cerita-cerita tentang manusia dengan segala tabiatnya.

Anton Pavlovich Chekhov, dialah manusia dibalik semua cerita-cerita ini. Dalam satu tahun ini, Kepustakan Populer Gramedia (KPG) telah menerbitkan dua buku yang berisi kumpulan cerita pendeknya. Kumpulan cerpen yang pertama, “Pengakuan”, diterbitkan pada Januari 2004. Sedangkan yang kedua, Ruang Inap No. 6 diterbitkan pada Agustus 2004. Kedua buku ini diterjemahkan oleh Koesalah Soebagyo Toer dari bahasa Rusia. “Pengakuan” berisi 24 cerita pendek yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Rusia sekitar tahun 1800-an. Beberapa cerpen yang ada di dalamnya antara lain: Pengakuan, Cermin Perot, Di Kedai Cukur, Seorang Bandot dan Seorang Nona, dll. Dalam kumpulan cerpen ini, tema-tema seperti iri hati, egoisme, kemunafikan, kebahagiaan, cinta bahkan birokrasi negara dan korupsi menjadi tema-tema utama. Tema-tema ini sederhana dan mungkin menjadi sesuatu yang akan terlewatkan begitu saja dalam kehidupan sehari-hari manusia. Akan tetapi, dengan gaya penulisan Chekhov yang lugas, sarkastis dan humoris, cerita-cerita ini menjadi sangat menarik sehingga membuat manusia berpikir kembali tentang kehidupannya.

Dalam salah satu cerpen Chekhov yang berjudul Pengakuan, kita akan menemukan kisah Grigorii Kuzmich, seorang pegawai ‘bersih’ biasa yang baru saja diangkat menjadi kasir. Ia membenci orang-orang yang berkata bahwa dengan jabatannya yang baru, lama kelamaan pasti ia akan korup juga. Grigorii Kuzmich akan membuktikan bahwa perkataan orang-orang itu salah besar. Tentu saja… itu tidak terjadi. Sulit untuk tidak mengambil beberapa rubel dari kas ketika pemimpin yang tadinya sombong dan angkuh kini menjadi sangat baik sampai-sampai mau mengundang Grigorii makan malam di rumahnya. Atau pacar yang tadinya tidak mencintai Grigorii kini menjadi ramah dan sangat mencintainya bahkan tidak ragu lagi untuk menjadi istrinya. Atau adik yang tadinya tidak pernah menulis surat kini menuliskan surat penuh kebanggaan dan cinta sekaligus permohonan untuk meminjam uang. Semua ini dilakukan oleh orang-orang dekatnya dengan embel-embel ‘Awas ya, aku tidak sudi punya suami (kakak) seorang koruptor’.

Kumpulan cerpen yang kedua masih mengisahkan tema-tema yang sama. Akan tetapi, berbeda dengan kumpulan cerpen Pengakuan, cerpen-cerpen pada Ruang Inap No.6 lebih menonjolkan analisis filosofis yang mendalam atas sisi-sisi kehidupan manusia. Ruang Inap No. 6 berisi sembilan cerita pendek Chekhov, antara lain: Ruang Inap No.6, Manusia Dalam Kotak, Wanita Dengan Anjing, dll. Nuansa humor yang kental pada Pengakuan akan sedikit kita temukan dalam Ruang Inap No.6. Sebagai gantinya, kita akan menemukan kesakit hatian, kemurungan dan ironisme dari kehidupan manusia.

Dalam Ruang Inap No. 6 kita akan berjumpa dengan seorang dokter, Andrei Yefimich Ragin dan seorang pasien sakit jiwa, Ivan Dmitrich Gromov. Kala itu, rumah sakit menjadi salah satu layanan umum yang tidak terawat dengan baik. Andrei Yefimich menjadi salah satu dokter yang prihatin tentang masalah ini, namun ia tidak berdaya menghadapi sistem pemerintahan yang ada. Dengan buku-buku dan temannya, seorang kepala kantor pos, Andrei Yefimich mengungkapkan banyak pertanyaan dan kegelisahannya tentang manusia. Namun, sayangnya sang kepala kantor pos bukanlah teman yang sepadan untuk diajak bertanya-tanya tentang kehidupan. Sampai suatu hari, berkunjunglah Andrei Yefimich ke Ruang Inap No.6 – sebuah paviliun dalam kompleks rumah sakit yang ‘menangani’ pasien-pasien sakit jiwa. Di sinilah awal perjumpaannya dengan Ivan Dmitrich, seorang penderita paranoid. Pembicaraan mereka diawali dengan keinginan – atau lebih tepatnya – kemarahan Ivan Dmitrich karena rumah sakit telah merenggut kebebasannya. Kemudian mengalirlah berbagai pembicaraan tentang manusia yang mereka lakukan setiap kali Andrei Yefimich berkunjung ke Ruang Inap No.6. Pertemanan ini dianggap aneh oleh seluruh staf rumah sakit, bahkan mereka menganggap sang dokter sudah ikut-ikutan menjadi gila. Tentu saja, sang dokter yang merasa sehat walafiat menolak setiap usulan rekan sejawatnya yang meminta dia untuk memeriksa keadaan fisik dan mentalnya. Pada titik ini, Andrei Yefimich sudah tidak dipercayai lagi oleh seluruh rumah sakit tempatnya bekerja. Akhirnya ia dimasukkan secara paksa ke dalam Ruang Inap No.6 untuk bergabung bersama ‘teman-teman’ lainnya. Kehidupan Andrei Yefimich berakhir dengan kematiannya di Ruang Inap No.6 setelah menerima tindak kekerasan dari sang penjaga, Nikita. Cerita-cerita yang ironis seperti ini akan banyak kita jumpai dalam kumpulan cerpen Ruang Inap No.6.

Perbedaan nuansa dalam kedua kumpulan cerpen Chekhov tidak terlepas dari perjalanan Chekhov sendiri sebagai seorang sastrawan. Anton Chekhov (1860-1904) lahir di kota Taganrog, Rusia. Pada tahun 1875 ia dan keluarganya pindah ke Moskwa untuk menghindari hutang. Chekhov menempuh pendidikannya di Fakultas Kedokteran Universitas Moskow. Selama mahasiswa, ia mulai menulis dan mengirimkan cerpennya ke surat kabar untuk menambah penghasilan bagi keluarganya. Pada tahun 1884 ia memulai pekerjaannya sebagai seorang dokter. Bersamaan dengan itu, minatnya pada sastra semakin berkembang.

Perjalanan Chekhov sebagai seorang sastrawan dapat dibagi ke dalam tiga periode, tahun 1880-an, 1890-an dan 1900-an. Tahun 1880 merupakan awal karir Chekhov sebagai penulis. Tulisan-tulisan pertama muncul di majalah-majalah humor populer tahun 1880-an, seperti Oskolki (Perpecahan) dan Strekoza (Capung) yang umumnya berisi cerita lucu mengenai kehidupan sehari-hari. Lewat cerita-cerita itu ia menertawakan dan mengejek tetek bengek kehidupan. Cerpen pertama muncul di majalah Strekoza. Pada awal periode ini Chekhov juga kadang membicarakan masalah kemasyarakatan yang menonjol dan penting serta mengecam sistem negara birokrasi dan negara polisi yang menyuburkan korupsi dan praktek penjilatan, seperti dalam Pengakuan. Cerpen-cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerpen Pengakuan merupakan cerpen-cerpen yang ditulis dalam periode ini.

Selain cerita-cerita pendek, Chekhov juga menulis beberapa naskah drama. Pada tahun 1886 ia menulis sebuah drama berjudul The Seagull namun pementasannya tidak terlalu sukses. Meskipun demikian, Chekhov tidak berhenti menulis naskah drama. Pada tahun 1887 ia menulis naskah drama yang berikutnya, Ivanov. Hasil pementasannya tidak jauh berbeda dengan pementasan The Seagull. Drama berikutnya, The Wood Demon yang ditulis pada 1889 juga bernasib sama dengan pementasan-pementasan sebelumnya. Akhirnya, Chekhov bersumpah tidak akan pernah menulis naskah drama lagi.

Karya-karya terbaik Chekhov lahir pada periode 1890-an. Kumpulan cerpennya, Pyostriye Raaskazi (Cerita Pusparagam), terbit pada 1886. Pada periode inilah ia mengalami perkembangan kreatif dalam karirnya sebagai seorang sastrawan dan sudah menjadi penulis matang yang punya nama di Eropa. Cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Ruang Inap No.6 merupakan karya yang diambil dari periode ini. Kehebatan karya-karya Chekhov pada periode ini juga tidak terlepas dari ‘keintiman’nya yang semakin dalam dengan kehidupan masyarakat, terutama masyarakat yang menderita. Pada tahun 1890 ia melakukan perjalanan ke Pulau Sakhalin, tempat pembuangan dan kerja paksa ciptaan Tsar Rusia. Hasil temuan dari penjara dan masyarakat sekitarnya diterbitkan dalam Ostrov Sakhalin (Pulau Sakhalin) pada tahun 1894. Sejak memulai karirnya sebagai penulis, ia tetap menjalankan profesinya sebagai dokter terutama untuk kaum miskin.

Pada tahun 1899 kesehatan Chekhov semakin menurun karena penyakit TBC yang dideritanya. Karena itu ia memutuskan untuk pindah ke Yalta. Pada periode 1900-an, produktivitasnya sebagai seorang penulis sudah menurun. Meskipun demikian, pada periode inilah drama-drama yang ditulisnya menjadi terkenal. Stanilsavsky merupakan orang yang terlibat dalam merevisi drama-drama Chekhov sehingga pementasannya menjadi pementasan yang sangat sukses. The Seagull dan Uncle Vanya (bahan dasarnya diambil dari The Wood Demon) menjadi pementasan sukses di akhir tahun 1800-an. Pada tahun 1901 drama Chekhov, The Three Sisters dipentaskan. Lalu di tahun akhir kehidupannya, 1904, The Cherry Orchard dipentaskan. Chekhov meninggal pada tahun 1904 di Jerman.

Meskipun Chekhov telah menghasilkan karya-karya yang menarik sejak tahun 1880-an, namun namanya sendiri baru dikenal oleh dunia setelah perang dunia I. Di Indonesia sendiri, Chekhov baru dikenal pada sekitar 1950-an. Tidak masalah jika kita baru mengenalnya pada tahun 2004 ini, setelah dua kumpulan cerpennya diterbitkan. Sebab setelah hampir dua abad, cerita-cerita Chekhov tetap akan membuat kita merenung, tertawa geli, kesal, terharu, bersimpati atau bahkan terheran-heran… tapi kemudian membuat kita memaknai kembali kehidupan manusia.

Grace Leksana, redaksi Sekitarkita

Sumber:

  • Chekhov, Anton. Pengakuan. 2004. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Chekhov, Anton. Ruang Inap No.6. 2004. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • http://www.chekhovworld.com/
Previous articleTeroris
Next articleSubyek hukum Pidana
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular