Tuesday, August 16, 2022
HomeBudayaPemikiran“Balian bukan Dukun”

“Balian bukan Dukun”

Catatan dari workshop tari Maestro! Maestro!” di Teater Luwes, kampus IKJ Jakarta, 5 Desember 2010

Konon, pengobatan timur dikenal sangat manjur. Ramu-ramuan tradisional dan pengobatan dengan mengandalkan unsur alam dari negeri Tiongkok sangat di kenal di berbagai tempat di dunia termasuk Indonesia. Sebetulnya Indonesia sendiri memiliki banyak ramuan dan pengobatan tradisional. Salah satunya pengobatan yang dilakukan oleh Balian di masyarakat Dayak.

Balian banyak di anggap sebagai dukun, namun masyarakat Dayak Banuaq dari Kutai Barat menolak penyebutan tersebut. Mereka menganggap Balian tidak sama dengan Dukun. Kenapa begitu? Karena di dalam masyarakat Dayak Banuaq Kutai Barat, Balian melakukan pengobatan secara gratis, tidak di pungut biaya apapun. Sedangkan Dukun selalu menarik pungutan dari masyarakat ketika melakukan pengobatan. Itulah yang diungkapkan oleh Bp. A.Renon, seorang penari Balian masyarakat Dayak Banuaq di Kutai Barat, pada workshop tari bertema “Maestro! Maestro!” di Teater Luwes, kampus IKJ Jakarta, 5 Desember 2010 yang lalu.

Pada workshop ini Bpk.A Renon menampilkan gerak tari Balian Sentiyu. Yaitu merupakan tarian yang menampilkan proses pengobatan leluhur yang secara turun temurun melekat pada balian. Pada proses ini balian berkomunikasi dengan alam dan roh halus untuk melakukan pengobatan. Tarian Balian Sentiyu ini memiliki irama yang cenderung cepat pada awalnya, mengingatkan pada tarian Dadas Bawo dari Kalimantan Tengah, kemudian selanjutnya iramanya berada dalam nada yang sama.

Selain Bpk A.Renon yang sudah 40 tahun menjadi penari Balian, juga hadir penari cilik dari Kutai Timur, bernama Deplin Aprilia B. Meski masih berumur 7 tahun, dan tampak malu-malu ketika tampil di muka peserta workshop, Deplin sudah mampu menunjukkan kemampuan menari yang baik untuk anak seumurnya. Nampaknya bakat menari nya diturunkan dari neneknya yang juga adalah maestro tari Dayak Kenyah di Kutai Timur, ibu Pedaan, yang sayangnya tidak bisa hadir pada workshop dikarenakan kelelahan perjalanan jauh dari Kutai Timur ke Jakarta.

Ibu Pedaan diperkirakan sudah berumur 70 tahun, dan masih aktif menari sampai sekarang. Deplin menunjukkan sedikit gerakan tari Ngendau pada workshop kali ini. Ngendau merupakan tarian yang melambangkan kerinduan seorang isteri atas kepergian suami dan larangan untuk tidak hidup semena-mena (brutal) serta larangan untuk berbuat curang pada permainan. Workshop mengenai tari ini sebetulnya sangat menarik untuk diikuti oleh kalangan muda, agar budaya masyarakat Dayak sebagai salah satu budaya Indonesia bisa terus dilestarikan, namun tidak banyak masyarakat umum yang menghadiri workshop ini, dikarenakan publikasi yang kurang atas acara workshop. Yang paling banyak terlihat adalah para mahasiswa tari dari IKJ.

Penulis: Diyah Wara R

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular