Menembus Hutan Magis di Jantung Kalimantan; Sebuah Kenangan Perjalanan

0
1068

Laki-laki tersebut terlihat berkomat-kamit melafalkan doa-doa dalam bahasa Dayak yang tidak ku mengerti, selanjutnya dinyalakannya dupa yang sudah ada di depannya, tak lama, seseorang membawakannya ayam kepada laki-laki yang juga adalah dukun, yang di ayun-ayunkannya pada semua yang hadir oleh si laki-laki. Itu baru pembukaan upacara penyambutan tamu. Selanjutnya si ayam di potong dan sebilah pisau di masukkan ke dalam darah ayam yang sudah ditampung di gelas. Sambil terus merapalkan doa-doa, si dukun laki-laki mendatangi teman-temanku dan aku. Di ikatkan sebuah gelang benang di tangan kami, dipercikkan air ke atas kepala kami dan diletakkan pisau di bibir kami, maka resmilah kami menjadi tamu di sebuah desa di daerah pedalaman Murung Raya.

Murung Raya, sebuah Kabupaten di sebelah timur atas Kalimantan Tengah. Merupakan Kabupaten baru hasil pemekaran dari kabupaten Barito Utara, berdasarkan pada UU RI No.5 Tahun 2002, tanggal 2 Juli 2002, tentang Pembentukan Delapan Kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Murung Raya.

Sejarah Murung Raya sendiri telah terentang jauh sebelum masa Perang Dunia II. Wilayah Murung Raya yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda sebagai District Barito Hulu, telah dijadikan basis atau benteng pertahanan untuk menangkal setiap serangan musuh dari orang-orang pribumi maupun asing. Setelah penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia, status Murung Raya sebagai basis pertahanan berubah menjadi Kewedanaan Barito Hulu yang berkedudukan di Puruk Cahu dan dipimpin secara berurutan oleh para Wedana. Status Kewedanaan ini pada tahun 1964 berubah menjadi Daerah Persiapan Barito Hulu, dan pada tahun 1965 ditetapkan menjadi Kantor Daerah Tingkat II Administratif Murung Raya. Kemudian terjadi lagi perubahan status dari Kabupaten Administratif menjadi Wilayah Kerja Pembantu Bupati Barito Utara di Murung Raya.

Kabupaten Murung Raya memiliki luas wilayah sekitar 23.700 Km2, dengan topografi didominasi pegunungan, perbukitan, hulu sungai dan riam-riam, dilintasi oleh salah satu sungai yang terkenal di Kalimantan, yaitu sungai Barito. Sungai memiliki arti penting bagi penduduk Murung Raya yang kurang lebih dari 90% adalah etnis Dayak dengan sub etnis Dayak yang berbeda-beda seperti Dayak Ot Danum, Dayak Siang, Dayak Bahau, Dayak Kahayan, Dayak Bakumpai, Dayak Punan dll, dengan dialek masing-masing. Sungai berfungsi sebagai transportasi angkutan barang dan penumpang di sebagian besar wilayah Kabupaten Murung Raya, serta menjadi penghidupan utama para suku Dayak di Murung Raya selain dari hutan dan ladang mereka. Ikan terkenal seperti arwana, dipercayai berada di wilayah ini.

Secara geografis Kabupaten Murung Raya terletak di daerah khatulistiwa berada di wilayah bagian utara Kalimantan Tengah, yaitu pada posisi antara 113° 20`– 115° 55` BT dan antara 0°53`48” LS – 0° 46` 06” LU. Ciri daerah ini sebagai daerah khatulistiwa ditandai dengan adanya tugu khatulistiwa. Ketika kita berada di tugu tersebut, panas yang menyengat begitu terasa. Sedangkan di bagian utara wilayah ini membentang pegunungan yang terkenal dengan kekayaan ragam hayatinya yaitu pegunungan Muller, sebuah pegunungan yang terlihat menghijau, penuh bebatuan kapur dan granit, yang kaya akan keanekaragaman hayati seperti anggrek hutan dan lain-lain.

Di salah satu desa yang dekat dengan pegunungan Muller inilah, sekarang teman-temanku dan aku tengah berada. Sebuah desa dengan pemandangan sungai berwarna kehijauan yang bening dan bukit kehijauan yang terselubungi kabut pada pagi hari. Setelah menembus lebatnya hutan dengan menyusuri jalan bekas perusahaan kayu, mengarungi sungai yang airnya bening sehingga bisa melihat batuannya yang berwarna-warni, melewati lebih dari satu riam sungai dan harus mendorong perahu kecil karena air sungai yang surut maka sampailah kami ke desa sederhana ini.

Rumah penduduk sebagian besar masih dari kayu. Daerah ini memang salah satu sumber kayu-kayu terbaik di dunia seperti ulin atau meranti. Kayu-kayu yang pada masa pembalakan liar menjadi incaran dari para cukong-cukong kayu untuk dijual di seluruh negeri bahkan sampai ke mancanegara. Saat ini masih terlihat beberapa batang kayu yang besar-besar di bawa oleh truk ke luar daerah tersebut. Namun dikatakan salah seorang penduduk bahwa kayu-kayu tersebut merupakan hasil kayu dari hutan produksi yang sudah ada ijin keluar kawasan nya dari Departemen Kehutanan, dan bukan berasal dari hutan alam. Di kawasan hutan produksi tersebut terdapat perusahaan yang mengelola pengangkutan dan penjualan hasil hutan tersebut.

Sumber ekonomi mereka pun masih sederhana, didapatkan mereka dengan menjual ikan yang di cari dari sungai yang mengalir di dekat desa, menjual hasil buah-buahan atau sayuran hutan dan menanam padi di ladang. Salah seorang penduduk berkisah, pada tahun 1980-an, mereka masih melihat ikan arwana. Tapi setelah itu tidak ada yang pernah melihatnya. Maka, kisah ikan arwana, menjadi satu dongeng mengenai kekayaan alam desa tersebut yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Salah satu masalah yang berkaitan dengan sungai mereka sekarang ini yaitu dengan maraknya penambangan emas. Penambangan emas ini menggunakan bahan kimia yang mencemari sungai mereka. Padahal sungai merupakan salah satu sumber kehidupan mereka selain hutan. Mereka menggunakannya untuk mandi, mencuci, air minum dsb. Pada saat kami mengunjungi desa ini, belum ada tindakan apapun dari pemerintah mengenai penambangan emas ini. Karena sebagian penambangan emas merupakan milik orang-orang yang berpengaruh dalam pemerintahan atau masyarakat, sehingga sulit untuk menutup pertambangan emas tersebut. Sedangkan bagi masyarakat, penambangan emas merupakan salah satu peluang kerja bagi mereka untuk mendapatkan uang, setelah sumber hutan ternyata tidak cukup memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

Padahal, masyarakat desa ini telah memiliki tradisi untuk memanfaatkan hasil hutan dan sungai secara bijaksana. Hasil hutan dan sungai ini sangat cukup memenuhi kebutuhan pangan mereka. Namun, ketika pengaruh dari luar masuk, dengan pembukaan hutan untuk perusahaan kayu, berbagai barang lainnya menjadi masuk, dan bukan hanya kebutuhan pangan yang mereka harus penuhi tapi juga kebutuhan barang lain, seperti alat elektronik dll nya. Ketika pengaruh luar dengan menyebut dirinya ’modern’ maka pola konsumsi masyarakat desa itupun berubah. Pada desa tersebut pun mulai bermunculan warung-warung yang menjual makanan atau barang lainnya. Pola pencarian ikan di sungai pun yang dahulu hanya menggunakan perahu tradisional, tombak dan perangkap ikan dari bambu, sekarang menggunakan perahu bermesin motor dan jaring atau pancing. Hasil tangkapan ikanpun menjadi lebih banyak dengan waktu yang lebih singkat daripada dahulu.

Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, tingkat pendidikan masyarakat desa pun berubah. Meskipun pada desa tersebut hanya terdapat satu sekolah dasar, dan untuk bersekolah di tingkat selanjutnya harus menempuh jarak yang jauh dari desa mereka, namun kesadaran mereka untuk menyekolahkan anaknya ke tingkat SMP bahkan perguruan tinggi semakin besar. Para perempuan, sebagai kelompok yang rentan buta huruf pun menjadi berkurang. Dengan fasilitas belajar yang jauh tertinggal di bandingkan dengan desa-desa di Jawa, sekolah dasar tetap berdiri. Terlihat anak-anak berseragam merah putih tanpa memakai sepatu atau hanya memakai sandal berjalan menuju bangunan sekolah pada pagi hari. Bangunan sekolah itu pun sebagian besar terdiri dari kayu seperti bangunan masyarakat pada umumnya.

Meskipun keadaan hutan dan sungai sudah berubah, ternyata saat ini masih ada sekelompok orang-orang yang berjuang untuk mengembalikan kondisi hutan dan sungai serta menjaganya seperti tradisi masyarakat Dayak. Dan ketika mereka bercerita soal keberadaan mereka, hutan, sungai dan ladang mereka, mereka kelihatan begitu bangga akan apa yang telah mereka miliki saat ini dan apa yang menjadi tradisi bagi mereka, tanpa menyombongkan dirinya. Bagi mereka, tradisi itu akan tetap di teruskan meskipun jaman telah berganti, meskipun Murung Raya telah berubah dari kawedanan menjadi kabupaten, mereka tetaplah masyarakat Dayak yang sederhana dan rendah hati.

Diyah Wara Restiyati, Penulis dan Pemerhati Masalah Sosial-Ekologi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here