Thursday, December 1, 2022
HomeEditorialMengenang Perjuangan Rachel Corrie!

Mengenang Perjuangan Rachel Corrie!

Tulisan ini dipublikasikan kembali untuk memperingati kematian Rachel Corrie, seorang penggiat perdamaian di Palestina pada 16 Maret 2003

“Yesterday, I watched a father lead his two tiny children, holding his hands, out into the sight of tanks and a sniper tower and bulldozers and Jeeps because he thought his house was going to be exploded” ((Surat Rachel Corrie pada 27 Februari 2003 kepada ibunya – http://www.ifamericansknew.org/download/rachels_letters.pdf))

Kalimat di atas adalah kutipan dari sebuah surat yang dikirimkan oleh seorang anak kepada orang tuanya saat berada di Jalur Gaza, Palestina. Tidak lama setelah mengirim surat, dia kemudian tewas dilindas oleh Buldozer tentara Israel yang menggusur sebuah rumah.

Tulisan ini ditujukan untuk menghormati dan memperingati 6 tahun wafatnya seorang martir kemanusian yang bercita-cita membuat perubahan.

Anak itu bernama Rachel Corrie. Namanya mungkin terdengar asing buat kita yang berada di Indonesia. Namun bagi mereka yang berada di Palestina, khususnya di Jalur Gaza namanya akan selalu dikenang sebagai martir kemanusiaan. Dia juga yang memberikan bukti bahwa solidaritas tidak mengenal batas negara, agama, warna kulit, ideologi dan suku.

Dia lahir di sebuah kota yang tenang Olympia, Washington, Amerika Serikat pada 10 April 1979. Tidak seperti anak biasanya, sejak kecil dia sudah aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Ia sudah meneliti tentang kemiskinan sejak kelas lima sekolah dasar. Hasil penelitiannya tersebut masuk ke dalam laporan UNICEF dalam World’s Children 1989. Saat berusian 13 tahun, dia sempat menuliskan kalimat yang menyentuh “Kumau mengubah dunia. Ku tak ingin gunakan obat-obatan. Bisa saja kutenggak alkohol sebelum cukup usia, tapi aku tak pernah merencanakannya. Kupercaya, jati diri di dapat melalui proses, bukan melalui narkoba.” ((Let Me Stand Alone, sebuah buku yang berisi catatan harian Rachel Corrie selama hidup))

Saat para remaja sedang asyik-asyiknya nongkrong di cafe atau hang-out sama teman, dia berkeliling di berbagai supermarket untuk mengumpulkan donasi dari para pengunjung. Donasi tersebut diperuntukkan untuk membantu masyarakat yang miskin. “Sekaleng makanan dari Anda, segudang manfaat bagi mereka yang kelaparan.” kata Rachel kepada setiap pengunjung supermarket. Dalam seusianya yang masih terbilang muda, kepeduliannya pada persoalan sosial sudah begitu besar.

Di tahun akhir masa kuliahnya, dia kemudian bergabung International Solidarity Movement (ISM). Pada 22 Januari 2003, dia dikirim ke Jalur Gaza untuk bergabung dengan relawan lain. Salah satu tugasnya adalah menghalangi tindakan tentara Israel yang saat itu sedang gencar-gencarnya melakukan penggusuran pemukiman rakyat Palestina. Dia kerap kali menjadi tameng hidup dan menghalangi-halangi buldozer tentara Israel. Oh iya, tameng hidup adalah salah satu metode yang digunakan aktivis gerakan anti-kekerasan dalam melakukan protes.

Dalam gerakan anti-kekerasan, direct action merupakan pilihan yang selalu digunakan. Namun tindakan tersebut tidak bisa dilakukan begitu. Ada pra-syarat dan kondisi yang harus disiapkan untuk menghindari terjadinya tindakan kekerasan. ISM mempunyai kebijakan bahwa tiap relawan harus mengikuti beberapa pelatihan dan mematuhi beberapa syarat seperti “menggunakan jaket yang berwarna terang, jangan lari, tidak menakuti tentara, coba berkomunikasi hingga mereka (tentara) mengetahui kehadiran anda”.

Pada 16 Maret 2003, Rachel bersama beberapa orang temannya melakukan aksinya. Dengan jaket berwarna orange terang dan mega-phone, dia berusaha menghalangi sebuah buldozer yang berniat meruntuhkan sebuah rumah. Akhirnya tragedi itupun terjadi. Buldozer tersebut tidak peduli kehadiran Rachel dan terus merangsek. Rachel dan teman-temannya terus berteriak melalui mega-phone. Dia pun kemudian meninggal dilindas oleh buldozer tersebut.

Menurut ISM, selain Rachel, beberapa orang pengiat mereka ditembak di Palestina. Dua diantaranya, termasuk Rachel meninggal dunia.

Sampai saat ini, belum ada tindakan yang jelas dari pemerintah Israel untuk menyelidiki kasus ini.  ISM dan Amnesty International terus menekan dunia Internasioanl agara meminta pertanggung-jawaban Israel. Mereka juga menuding bahwa pemerintah Amerika Serikat juga berperan dalam kasus ini. Catepillar Inc, sebagai produsen alat berat yang digunakan oleh tentara Israel dalam melakukan penggusuran akhirnya di gugat oleh kelurga Corrie dan beberapa warga Palestina yang menjadi korban penggusuran.

Semoga semangat Rachel Corrie tetap melekat di banyak manusia yang melihat persoalan dengan lebih jernih dan berani mengambil sikap untuk bertindak.

Sumber: www.syaldi.web.id

RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

  1. semua menjadi iktibar yg luar bisa dri sebuah perjalanan anak manusia, tentang kisah yg membuat kita tersentak ternyata masih ada dan slalu ada peristiwa2 seperti itu baik masa lalu maupun yg konon zaman sdh modern, perjuangan akan kebaikan dan kejahantan akan terus mewarnai dunia sampai akhir zaman……..bersiap siap lah kita untuk terus berjuang dan berjuang,,,,,,,,,,,,,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular