Thursday, December 1, 2022
HomeBencanaKita dan Bencana

Kita dan Bencana

Kembali tanah Indonesia dilanda bencana gempa bumi di Padang padahal kepiluan belum berhenti  ketika saudara saudara kita di Tasikmalaya dan sekitarnya masih menderita akibat gempa yang terjadi dua bulan lalu. Hampir sebulan bencana gempa Padang berlalu, kami mencoba untuk berefleksi terhadap peristiwa tersebut. Chaos alam, itulah yang terus menerus meporak porandakan sebagian bumi Indonesia yang kemudian pastinya akan banyak kehilangan nyawa dan benda. Bencana alam di Indonesia saling menyusul, silih berganti yang pada akhirnya akan sangat menguras energy dan kekuatan kita demi melakukan penanganan bencana; evakuasi, rehabilitasi, pemulihan trauma pada anak anak, serta perbaikan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat yang menjadi korban. Tak sedikit biaya tentunya yang akan digunakan untuk mengatasi kondisi pasca gempa yang seharusnya jumlah angka angka tersebut dapat dipergunakan untuk mensejahterakan dan mengangkat martabat rakyat Indonesia yang masih menderita kemiskinan dan kelaparan tapi itulah diluar jangkauan dan pikiran manusia atas peristiwa bencana alam. Disinilah Tuhan menampakkan manifestasinya yang adiluhung lewat keteraturan alam meski manusia tidak menyadarinya. Yang menjadi korban, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meninggikan derajatnya.
Satu hal yang selalu menjadi dasar pertanyaan ketika bencana menghampiri kita adalah apakah ini merupakan akibat ulah manusia atau kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang jelas aspek teologis seringkali kita dengar menjadi satu pembicaraan dan alasan kenapa bencana itu datang yang pada akhirnya adalah menyalahkan korban itu sendiri. Dengan argument ini bencana dianggap azab dari Tuhan kepada umatnya. Ketika tsunami banyak merenggut nyawa rakyat Aceh para agamawan menilai hal itu terjadi karena rakyat Aceh memberontak terhadap NKRI, sebagian berpendapat bahwa telah terjadi kristenisasi di Meulaboh maka terjadilah bencana besar disana. Ketika tanggul Situ Gintung jebol masyarakat sekitar berkesimpulan bahwa Situ tersebut seringkali menjadi ajang maksiat maka wajar Tuhan marah terhadap tempat tersebut. Pernah satu kali penulis mendengar keluhan seorang khatib Jum’at mengatakan bahwa kenapa bencana terjadi di Padang dan tidak terjadi di Bali yang menurutnya adalah pusatnya maksiat. Penulis jadi ingat bagaimana kegundahan seorang Francois Marie Arouet (Voltaire) dalam melihat bencana gempa bumi di Lisabon yang merenggut nyawa 55.000 orang yang kemudian ia mempertanyakan Tuhan apakah kota tersebut lebih berdosa dari Paris atau London sehingga pantas menerima tragedi mengerikan itu. Teologi bencana yang muncul ke permukaan tidak lepas dari peran teks –teks kanonik agama (baca: Islam). Dalam Al-Quran terdapat kisah yang menghukum kaum Nabi Luth karena umatnya terlibat homoseksualitas maka dibalikkanlah bumi untuk menenggelamkan kaumnya tersebut.

Penjelasan penjelasan teologis bahwa Tuhan telah memberikan azab dari cara masyarakat kita berpikir untuk mengungkap noumena –meminjam istilah Immanuel Kant – di balik fenomena bencana  sangat tidak etis. Penulis berpendapat bahwa tidak ada hubungan antara bencana dengan pemberontakan, kristenisasi, perbuatan maksiat, homoseksualitas atau apapun juga yang dianggap buruk oleh masyarakat. Yang jelas bencana bersumber atau tidak lepas dari dua hal. Pertama, bencana memang merupakan fenomena alam yang berhubungan dengan meteorologi dan geofisika. Kedua, akibat perilaku manusia seperti pembalakan dan pembakaran hutan secara membabi buta, mengeruk hasil bumi seperti di Freeport, pengeboran minyak yang asal asalan seperti di Lapindo dan ini sejalan dengan pandangan dunia yang antroposentris. Dengan manusia sebagai pusat kosmos, alam tidak dijadikan sebagai teman tetapi lebih sebagai ancaman. Antara kondisi alam dan kebudayaan masyarakat saling berhubungan satu sama lain. Nilai nilai luhur kebudayaan suku Amungme di pedalaman Papua terhadap pegunungan disekitarnya sangat harmonis dan serasi tetapi tradisi terhadap nenek moyang mereka kian terkikis dan bencana ekologi, social dan cultural dengan cepat merambat ketika Freeport Mc Moran diberikan izin pertambangan emas dan tembaga.

Memang Tuhan mempunyai kedaulatan dan kekuasaan atas seluruh alam tetapi manusialah yang menurut St Agustinus dengan ketololan dan kefasikannya yang menyebabkan malapetaka terhadap manusia itu sendiri. Dan perlu diketahui adalah bahwa mereka yang menjadi korban bencana alam atau tragedy kemanusiaan bukan karena korban itu melakukan kesalahan fatal; politik, moral, ataupun kriminal sehingga dapat menerima balasan dan hukuman sepadan. Pertanyaan mendasar kemudian adalah dimana keberadaan Tuhan ketika orang orang tidak berdosa ini menjadi korban kebiadaban manusia lain dan keganasan alam. Dimana Tuhan ketika tsunami merenggut nyawa ratusan ribu rakyat Aceh, dimana Tuhan ketika Auschwitz, Birkenau, Buchenwald menjerit, atau gempa di Padang yang memakan korban ribuan orang. Mungkin dengan cara ini Tuhan mengasihi umatnya yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Mungkin dengan menyakiti itu Tuhan ikut dalam penderitaan umatnya sendiri karena memang Tuhan yang transenden melebihi kemampuan dan kekuasaan manusia yang imanen.

Sebenarnya kita bisa saja mencegah bencana atau mungkin meminimalisir korban yang tertimpa bencana seandainya kita mampu menjaga kehidupan dan keberlangsungan ekologi. Awal dari semua bencana adalah karena keinginan dan nafsu manusia yang mencengkeram tidak ada habisnya. Pesisir pantai kita sering abrasi karena tidak ada penopang semisal hutan bakau. Hutan dimiliki oleh konglomerat untuk penghasilan kehidupan pribadi kelompoknya dengan cara melakukan illegal logging padahal dengan hutan gundul intensitas efek rumah kaca semakin meningkat yang mengakibatkan pemanasan global dikarenakan hutan yang berfungsi sebagai penyerap suhu panas dari atmosfer yang berupa gas CO2 (Karbondioksida)  menjadi terbatas. Masyarakat kita jugalah yang menuai akibat dari dampak kerusakan hutan seperti longsor, banjir, serta permukaan bumi yang semakin panas.

Muhammad Idenk Rusni, anggota Komunitas Sekitarkita? dan aktivis Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular